<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Herman Teguh adalah HERTEG</title>
	<atom:link href="http://herteg.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herteg.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Nov 2011 06:34:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='herteg.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Herman Teguh adalah HERTEG</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://herteg.wordpress.com/osd.xml" title="Herman Teguh adalah HERTEG" />
	<atom:link rel='hub' href='http://herteg.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Beberapa Persoalan di Seputar Asal-usul Nama Manado</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2011/11/02/beberapa-persoalan-di-seputar-asal-usul-nama-manado/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2011/11/02/beberapa-persoalan-di-seputar-asal-usul-nama-manado/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 06:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Tentang penemuan Manado Tua.  Tahun 1541 adalah tahun yang sangat awal untuk sejarah perpetaan orang Eropa.  Tapi pada tahun itu, di Perancis sudah terbit sebuah peta dunia yang mencantumkan nama Manado.  Mengapa bisa begitu?  Ternyata latar belakangnya harus dilacak hingga ke saat pertama Maluku ditemukan oleh Bangsa Eropa. Tahun 1511 bisa dianggap sebagai awal mula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=51&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tentang penemuan Manado Tua</strong>.  Tahun 1541 adalah tahun yang sangat awal untuk sejarah perpetaan orang Eropa.  Tapi pada tahun itu, di Perancis sudah terbit sebuah peta dunia yang mencantumkan nama Manado.  Mengapa bisa begitu?  Ternyata latar belakangnya harus dilacak hingga ke saat pertama Maluku ditemukan oleh Bangsa Eropa.</p>
<p>Tahun 1511 bisa dianggap sebagai awal mula munculnya Bangsa Barat di wilayah Indonesia, bahkan di seluruh belahan timur dunia—dari China sampai Pasifik.  Pada tahun itu Portugis merebut Malaka.  Disini beberapa hal penting terkait dengan asal-usul Manado, terjadi.</p>
<p>Pertama, dalam pertempuran merebut Malaka, Portugis berhasil merebut sebuah peta dari salah seorang nakhoda Jawa yang kapalnya dikalahkan.  Peta itu—yang dikatakan ‘berukuran besar’—memang akhirnya hilang, tapi bagian-bagian tertentunya sempat disalin dan legendanya juga sempat diterjemahkan.</p>
<p>Kedua, Portugis tidak berhenti di Malaka.   Masih dalam tahun 1511 itu, mereka sudah mengirim suatu ekspedisi kecil dengan tugas antara lain menemukan Pulau Banda penghasil pala.  Dan memang, mereka berhasil mencapai Banda dan bahkan sebagian awak kapal juga melanjutkan perjalanan hingga mencapai Ternate, pulau penghasil cengkeh.</p>
<p>Di antara awak kapal yang ikut ekspedisi itu terdapatlah seorang kartografer muda bernama Fransisco Rodrigues.  Dia memang tak berlayar sampai ke Ternate, karena sesudah Banda dia kembali ke Malaka.  Tapi dalam pelayaran itu dia membawa salinan peta dari pelaut Jawa yang disebutkan di atas.  Selain itu, karena dalam pelayaran itu Portugis juga menyewa beberapa pemandu lokal, termasuk yang bernama Ismael yang ikut dari sejak Malaka, maka bukan tidak mungkin selama pelayaran itu Rodrigues berkesempatan untuk menyempurnakan atau menambahkan catatan disana-sini pada peta salinan itu.</p>
<p>Ketiga, menyusul penaklukan Malaka yang sebelumnya didahului oleh gerakan maju Portugis dari pantai-pantai India ke Malaka, ada sejumlah penulis yang setelah mengumpulkan informasi-informasi dari para pelaut yang mereka temui lalu menulis beberapa risalah tentang wilayah-wilayah di belahan timur dunia.  Dua yang patut saya sebutkan disini yaitu Tome Pires dan Duarte Barbosa.  Pires menulis karya yang sekarang dikenal dengan judul <em>Suma Oriental</em> sedangkan Barbosa menulis <em>A Description of the Coasts of East Africa</em>.  Kedua tulisan ini ditambah dengan tulisan serta peta-peta yang dibuat atau disalin oleh Rodrigues—sekarang dibukukan di bawah judul <em>Book of Rodrigues</em>—menjadi sumber informasi pertama tentang Indonesia.  Dari ketiga dokumen ini asal-usul nama Manado akan dilacak.</p>
<p>Tapi keterangan mereka tak selalu terang benderang.  Banyak di antaranya yang membingungkan.  Di sebelah barat Ternate, mereka sepakat ada tempat-tempat yang bernama <em>Celebe</em> dan <em>Vdama</em>.  Dua nama pertama mungkin tak persoalan, tapi <em>Vdama</em> sangat membingungkan.  Rodrigues menggambarkan <em>Vdama</em> sebagai sebuah pulau tipis yang memanjang dari timur-laut ke barat-daya di sebelah barat Ternate.  Di atas gambar pulau itu dia menuliskan keterangan: <em>Ilha Vdama &amp; tem ssamdollo</em> atau ‘Pulau Vdama &amp; memiliki kayu cendana’.  Pires mendaftar <em>Vdama</em> dan <em>Celebe</em> bersama-sama dengan beberapa tempat yang lain termasuk Makasar, dan mengatakan bahwa tempat-tempat ini berdagang dengan Malaka.   Sementara Barbosa memberi kesan ada sekelompok pulau bernama Celebe yang penduduknya berkulit putih.</p>
<p>Terkait Manado, keterangan Barbosa akan saya abaikan karena deskripsinya lebih cocok untuk Sulawesi Selatan.  Jadi, saya akan beralih ke <em>Vdama</em>.  Oleh Armando Cortesao yang menerjemahkan Suma Oriental ke Bahasa Inggris, <em>Vdama</em> diduga adalah semenanjung Sulawesi Utara, dan asal katanya adalah ‘manado’.  Tapi dugaan ini ditolak oleh beberapa ahli termasuk Sollewijn Gelpke.  Gelpke menduga bahwa <em>Vdama</em> terkait dengan kata <em>Udama</em> dalam kitab Nagarakertagama, sebuah karya prosa Majapahit yang terbit sekitar 160 tahun sebelum Rodrigues dan Pires.  Lengkapnya adalah <em>Udamakatraya</em> dan itu tidak menunjuk ke Manado.</p>
<p>Tentu saja bukan maksud Gelpke untuk mengatakan bahwa Rodrigues atau Pires sudah membaca Nagarakertagama ketika menyebut <em>Vdama</em>.  Tapi mungkin maksudnya, kata <em>Vdama</em> itu diperoleh dari sumber-sumber Jawa dalam bentuk <em>Udama</em>—entah itu dari ‘peta besar’ milik nakhoda Jawa tersebut, entah Pires menyalinnya dari Rodrigues atau sebaliknya.  Lalu dalam proses salin-menyalin naskah dan peta selanjutnya, <em>Udama</em> menjadi <em>Vdama</em>.</p>
<p>Dugaan Gelpke nampaknya lebih masuk akal.  Sayangnya dugaan ini membawa kita menjauh dari Manado.  Sekarang letak <em>Udama</em> menurut Nagarakrtagama masih sedang diperdebatkan oleh ahli-ahli bahasa Jawa Kuno.  Mula-mula ada yang menduga <em>Udama</em> adalah Pulau-pulau Talaud.  Belakangan, muncul dugaan bahwa <em>Udama</em> terletak di Sulawesi Selatan.  Selain itu, jika Pires benar bahwa penduduk <em>Vdama</em> berdagang dengan Malaka, maka <em>Vdama</em> tidak menunjuk ke Manado.  Tak satupun tempat di Sulawesi Utara yang saat ini diketahui pernah berdagang langsung dengan Malaka di masa lalu.  Kesimpulannya sekarang, pada tahap awal kedatangan Portugis di Maluku, Portugis sebenarnya belum kenal dengan wilayah-wilayah di Sulawesi Utara termasuk Manado.  Jangankan Sulawesi Utara, bentuk Pulau Sulawesi sendiri pun mereka belum tahu.  Kita masih harus menunggu beberapa puluh tahun lagi sebelum Sulawesi Utara mereka kenal.</p>
<p>Dalam periode gelap itu, Portugis nyaris keduluan oleh Spanyol.  Sebagaimana diketahui, pada akhir tahun 1521 dua kapal pengeliling dunia Spanyol (ex-Magelhaens) yang dipimpin oleh Juan Sebastian del Cano mendadak memasuki perairan Sulawesi Utara dari arah Mindanau.  Ketika melewati gugusan Kepulauan Sangihe dan Talaud, mereka sempat mencatat beberapa nama pulau yang belum diketahui oleh Portugis.  Untungnya, ketika berada di sekitar Tagulandang mereka langsung berbelok ke timur untuk menuju Tidore.  Kalau saja mereka melenceng sedikit ke selatan, mereka pasti akan mendahului Portugis, menjadi orang Eropa pertama yang melihat Manado.</p>
<p>Entah karena termotivasi oleh kemunculan Spanyol yang mendadak ini, Portugis lalu berusaha menyelidiki wilayah-wilayah di sebelah barat Ternate.  Selama ini, Malaka dan Maluku memang terhubung oleh ‘rute selatan’, yakni rute yang melalui Laut Jawa dan Flores.  Tapi rute ini cukup panjang, lagipula didominasi oleh padagang-pedagang Muslim yang tak disukai Portugis.  Ini membuat mereka memikirkan rute lain.  Untuk itu, mereka melakukan beberapa ekspedisi.  Salah satunya yaitu yang dipimpin oleh seorang bernama nakoda Simao Dabreu pada bulan Mei 1523.  Dalam ekspedisi ini, Simao Dabreu dilaporkan melihat Manado.</p>
<p>Penemuan ini tentu saja bersejarah.  Tapi sayang, ternyata bukan Dabreu yang melaporkan penemuan ini.  Penemuan ini kita ketahui dari laporan orang lain, yaitu dari mantan Gubernur Portugis di Maluku, Antonio Galvao, dalam bukunya yang berjudul Tratado.  Tapi buku ini baru terbit tahun 1555 atau 32 tahun sesudah kejadiannya.  Padahal dalam selang waktu 32 tahun itu, pada tahun 1541 nama Manado sudah muncul dalam sebuah peta yang dibuat di Perancis.  Pertanyaannya, darimana para pembuat peta ini memperoleh informasi tentang Manado?  Jawaban yang masuk akal adalah, penemuan Dabreu (1523) membuat nama Manado disebut-sebut.  Ujung-ujungnya, nama Manado muncul di peta buatan Perancis (1541).  Tapi sampai saat itu, nama itu belum tertera dalam satupun laporan tertulis, dan baru pada tahun 1555 Galvao menulisnya dalam Tratado.</p>
<p><strong>Tentang munculnya nama Manado pertama kali dalam sebuah peta</strong>.  Mengenai munculnya nama Manado di sebuah peta buatan Perancis, kita tidak mungkin membicarakannya tanpa membicarakan Dieppe.  Dieppe adalah sebuah kota di daerah Normandy yang terkenal dalam sejarah kartografi.  Selama abad 16 di kota ini telah diterbitkan tiga seri peta dunia buatan tangan yang berukuran besar, yang pembuatannya dilakukan di bawah arahan beberapa petinggi Eropa.  Peta yang mencatumkan nama Manado dibuat oleh seorang kartografer yang tak begitu dikenal bernama Nicholas Desliens; peta ini terbit tahun 1541 dan termasuk dalam seri pertama dari peta-peta Dieppe yang terbit tahun 1540-an.</p>
<p>Disini timbul pertanyaan, mengapa harus Perancis, mengapa bukan di Portugis?  Bukankah waktu itu Portugis adalah penguasa lautan yang memiliki semua informasi tentang dunia?  Bukankah juga pada waktu itu mereka menerapkan <em>Politica de sigilio</em> atau politik tutup mulut sehingga semua yang mereka temukan tidak diketahui oleh orang Eropa yang lain?  Aneh memang.  Dalam situasi seperti ini, kemungkinannya cuma dua; Nicolaas Desliens telah bekerja dengan informasi yang kadaluwarsa, atau dia telah menyuap informan-informan Portugis untuk membocorkan rahasia ini.</p>
<p><strong>Tentang asal kata Manado.</strong>  Sesudah Dabreu, aktifitas orang Portugis di Sulawesi Utara sempat menurun.  Aktifitas ini nanti kembali meningkat setelah Maluku didatangi oleh Rasul Asia, Fransiscus Xaverius, pada tahun 1546.  Pada waktu itu, Manado Tua dijadikan salah satu sasaran Misi dan dengan begitu namanya muncul dalam sejumlah laporan Katolik.  Sampai disini, kami mencatat adanya beberapa variasi dalam menyebut Manado, di antaranya <em>manado</em>, <em>manada</em>, dan <em>manade</em>, walaupun ini mungkin tidak penting karena pada masa itu kesalahan pencatatan serta kesalahan penyalinan adalah lumrah.  Jadi yang menjadi pertanyaan adalah dari siapakah Dabreu memperoleh kata Manado.</p>
<p>Dalam Tratado, penemuan atas pulau Manado Tua diuraikan dengan satu kalimat pendek: ‘<em>Ouueram vista das ylhas de Manada</em>&#8230;’ atau ‘Mereka melihat pulau Manado&#8230;’  Dengan kalimat ini, ada dua hal penting yang harus diperhatikan.  Pertama, Dabreu tidak menginjakkan kaki di Manado Tua (dan ini bertentangan sekali dengan apa yang ditulis dalam beberapa buku Sejarah Minahasa bahwa Dabreu telah singgah di Manado).  Kedua, seorang penunjuk jalan lokal mungkin telah berperan dalam memberikan nama Manado kepada Dabreu.  Mengenai hal ini, kami juga tak menganggap istimewa karena dalam pelayaran-pelayaran perintis seperti itu, penggunaan tenaga guide lokal adalah lumrah.  Jadi lebih baik kita bertanya, siapa yang menjadi penunjuk jalan bagi Dabreu?</p>
<p>Manado adalah salah satu nama tempat di Sulawesi Utara yang kita warisi dari dokumen-dokumen Eropa, bukan dari tradisi lokal.  Kenyataan bahwa saat ini, tak satupun suku di Sulawesi Utara yang menyebut Manado mirip dengan yang apa didengar Dabreu atau Galvao, yaitu <em>manada</em>, menimbulkan pertanyaan, dari bahasa apakah kata ini berasal.  Orang Sangihe, Minahasa, Bolaang dan Gorontalo sekarang, masing-masing menyebut Manado<em> manaro</em>, <em>manarou</em>, <em>monadou</em>, dan <em>moladu</em>.  Kalaupun kata-kata ini juga yang dipakai pada jaman Dabreu—dan Dabreu tak salah mendengar atau Galvao tak salah mencatat—maka hanya kata <em>monandou</em> yang paling dekat dengan kata <em>Manada</em>.  Apakah ini berarti bahwa Dabreu telah mendengar kata <em>manada</em> dari seorang pelaut Bolaang?  Saya tak bisa memastikan.</p>
<p>Aspek lain dari asal-usul nama Manado adalah asal-usulnya dari segi linguistik.  Dalam hal ini, paling tidak harus dicari jawaban dari bahasa apakah kata itu berasal.  Johann G.F. Riedel mungkin menjadi peneliti pertama yang mencoba menjawabnya.  Sayangnya, dia sangat minahasasentris.  Dalam sebuah artikel yang ditulis pada tahun 1869, dia mengatakan bahwa kata Manado berasal dari kata kerja Tombulu tua, <em>manaror</em> atau <em>maharor</em>.  Kalau kita menerima pernyataan ini, berarti kita setuju bahwa semua sebutan Manado yang dipakai di kalangan suku-suku pelaut di sekeliling Minahasa sekarang, asal-usulnya ada di orang Tombulu.</p>
<p>Dalam hal ini Riedel nampaknya lupa bahwa penduduk Minahasa adalah penduduk pedalaman yang relatif terkucil—tak terkecuali Tombulu.  Di masa lalu, pemukiman-pemukiman orang Minahasa terpusat di daerah pedalaman yang sulit dijangkau dan dengan kontak-kontak dengan dunia luar yang amat terbatas.  Cerita-cerita lisan mengindikasikan bahwa kontak-kontak itu hanya berlangsung melalui beberapa ‘pintu’ di daerah pesisir, dan pintu-pintu ini juga tak selalu aman karena sering terganggu oleh peperangan dan serangan bajak laut.</p>
<p>Di lain pihak, Pulau Manado Tua juga dipisahkan dari daratan Minahasa oleh laut yang cukup lebar dan ini membuat akses orang Minahasa ke sana amat terbatas atau malah tidak ada sama sekali.  Cerita-cerita lisan mengindikasikan keterbatasan ini dan dokumen-dokumen sejarah juga tidak mencatat adanya hubungan orang Minahasa dengan pulau ini.  Nicolaas Graafland bahkan berani menyimpulkan bahwa penduduk Manado Tua (bersama-sama dengan pulau-pulau lain di lepas pantai utara Minahasa) adalah perompak laut yang tidak berkerabat dengan orang Minahasa.</p>
<p>Dengan kondisi seperti itu, apakah kita dapat menyimpulkan bahwa orang Sangihe yang pelaut, misalnya, telah meminjam nama <em>Manaro</em> dari orang Tombulu?  Atau jangan-jangan yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kata <em>manaror</em> dalam bahasa Tombulu diperoleh dari luar Minahasa.  Kemungkinan seperti ini tak perlu mengejutkan kita.  Dalam beberapa dongeng tua Minahasa pun, kita menemukan adanya nama-nama tempat yang lokasinya di luar jangkauan orang Minahasa, misalnya Bacan dan Saranggani.</p>
<p>Memang kita tidak bisa mengesampingkan kalau orang Minahasa juga punya nama tersendiri untuk Pulau Manado Tua.  Manado Tua adalah pulau yang menyolok dilihat dari beberapa tempat di pedalaman Minahasa.  Tapi apapun nama Minahasanya, nama itu pasti bersifat eksklusif dan telah lenyap terganti oleh nama Manarou.  Lagi-lagi pergantian seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa.  Kita punya contoh hilangnya nama ‘punten ni rumoyongporong’ karena terganti dengan nama ‘Lembeh’.</p>
<p>Kemungkinan bahwa asal-usul nama Manado berada di salah satu suku pelaut tetangga Minahasa, sebenarnya didukung oleh fakta bahwa suku-suku ini memiliki hubungan genealogis-historis yang sangat kuat dengan Pulau Manado Tua.  Orang Siau misalnya, percaya bahwa tokoh Lokongbanua lahir di pulau ini; Orang Sangihe percaya bahwa tokoh Gumangsalangit pernah singgah di pulau ini; Orang Babontehu disebut-sebut pernah berkerajaan di pulau ini; dan seorang raja dari Kerajaan Bolaang katanya pernah merebut pulau ini karena alasan hak waris.</p>
<p>Sayangnya, meskipun dongeng-dongeng itu mengisyaratkan kedekatan hubungan historis genealogis, ternyata tak satupun dari dongeng itu yang berisi tentang asal-usul nama Manado.  Selain itu, juga sulit juga dipisahkan apakah yang dimaksud dalam dongeng-dongeng tersebut adalah Pulau Manado Tua atau Manado yang di daratan.  Pengalihan penggunaan nama Manado dari Pulau Manado Tua ke Manado daratan oleh Belanda, nampaknya menjadi sebab dari kekaburan ini.  Dan itu sudah lama berlangsung.</p>
<p>Yang menarik adalah Orang sangihe.  Mereka mempunyai dua sebutan untuk Manado Tua; <em>manaro</em> dan <em>bena</em>.  Sebutan yang kedua, <em>Bena</em>, memang jarang kita dengar karena ini adalah sebutan dalam bahasa Sasahara atau bahasa rahasia.  Tapi kata ini menarik karena memiliki kemiripan bunyi dengan kata <em>wenang</em> dalam bahasa-bahasa Minahasa.  Menurut kami kemiripan ini bukan suatu kebetulan.  Perbedaannya pun unik.  Jika <em>bena</em> menunjuk ke Manado Tua, maka <em>Wenang</em> sebaliknya menunjuk ke Manado daratan.  Mengapa bisa terbalik-balik begitu?  Jawabannya tentu harus dicari di dalam konteks bahasa Sasahara.</p>
<p>Bahasa Sasahara adalah bahasa rahasia yang konon dipakai untuk mengelabui setan-setan di laut yang hendak mendatangkan celaka.  Ketika orang Sangihe berlayar ke Manado Tua—yang waktu itu adalah sebuah tempat <em>rendezvous</em>, mereka tidak menyebut tempat tujuannya dengan nama yang sebenarnya <em>manaro</em>, tapi menyamarkannya dengan nama dalam bahasa rahasia yaitu <em>Bena</em> (<em>wenang</em> menurut lidah orang Sangihe).  Pengalihan penyebutan ini mungin bermaksud untuk mengecoh setan-setan laut yang hendak mendatangkan celaka.  Tentu saja ini adalah dugaan kami semata dan ini masih harus dibuktikan.</p>
<p>Jika orang Sangihe punya dua sebutan, orang Babontehu lain lagi.  Mereka diidentikkan dengan pulau Manado Tua karena sejarah lisan mengatakan bahwa mereka pernah berkerajaan disitu.  Raja-raja mereka—seperti Lumentut, Makarompis I, dan Manirika—katanya pernah memerintah atas pulau ini dengan gagah berani.  Tapi persoalannya kita tak mungkin melacak nama Manado dari mereka.  Sejarawan Herzevien Taulu mengatakan bahwa sejak serangan Kerajaan Bolaang Mongondow atas Manado Tua (sekitar akhir abad 16), mereka telah terpencar ke pulau-pulau Sangihe dan Talaud.  Pada akhir abad 17 sisanya yang tinggal kira-kira 40 orang juga telah dipindahkan oleh Belanda ke Sindulang.  Kepindahan ini—meskipun kemudian diikuti oleh sebagian keturunan yang ada di Sangihe dan Talaud—ternyata harus diakhiri dengan kepunahan.  Berangsur-angsur orang Babontehu menghilang dari panggung sejarah dan sekarang kita tak tahu lagi apakah keturunan mereka masih ada atau tidak.</p>
<p><strong>Lalu kemana kita harus melacak asal-usul nama Manado?</strong>  Satu-satunya yang tersisa adalah dokumen sejarah.  Dalam hal ini adalah catatan dari para pendeta Protestan atau keluarganya.  Beberapa dari mereka pernah bertugas di Manado dan ada kemungkinan mereka pernah bertemu dengan orang-orang Babontehu yang asli.  Disini kami akan menyebut beberapa.</p>
<p>Jacobus Montanus, pendeta yang mengunjungi kota Manado pada tahun 1674, mencatat cerita tentang Kerajaan Manado yang konon memiliki wilayah yang terbentang mulai dari pesisir utara Gorontalo sampai Tanjung Pulisan.  Francois Valentijn, pendeta di Ambon yang terkenal dengan bukunya ‘Oud en Nieuw Oost Indie’ (1724), mencatat cerita tentang kemelut di Kerajaan Loloda, Halmahera Utara yang berujung pada larinya salah seorang pangeran ke Sulawesi Utara.  Nicolaas Graafland (1868), pendeta di Tanawangko dan Sonder, mencatat sebuah dongeng yang mengatakan bahwa penduduk Manado berasal dari pulau Bacan.  Johann G.F. Riedel (1869), anak dari penginjil Riedel di Tondano, mencatat cerita tentang sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di pantai timur Minahasa, yang pusatnya terletak di sebuah tempat bernama Maadon—di daerah Lilang, Kema, sekarang.</p>
<p>Tapi catatan-catatan ini tak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan kita.  Catatan-catatan ini masih harus diolah.  Disini saya akan menggunakan rekonstruksi dari Bert Supit (Minahasa, Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua, 1986).  Menurut dia, suatu waktu kerajaan Maadon telah diserang oleh kerajaan Bolaang.  Serangan ini membuat penduduknya cerai-berai dan sebagian dari mereka ada yang mengungsi ke Manado Tua.  Di pulau ini mereka mempertahankan nama Maadon, tapi seiring dengan waktu, nama itu berubah menjadi Manado.</p>
<p>Karena nama yang dicatat Galvao adalah <em>manada</em>, dan ini mirip dengan Manado, maka kemungkinannya nama ini telah diperoleh dari seorang keturunan pengungsi Maadon.  Pertanyaannya sekarang, apakah orang-orang keturunan pengungsi Maadon ini yang kemudian disebut orang Babontehu, ataukah orang Babontehu adalah etnis lain yang datang belakangan menggantikan mereka di Manado Tua?  Kami belum bisa memastikan.  Tapi apapun fakta itu, disini nama Manado harus dianggap berasal dari sebuah bahasa yang sudah punah—entah itu bahasa para keturunan pengungsi Maadon, entah itu bahasa Babontehu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=51&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2011/11/02/beberapa-persoalan-di-seputar-asal-usul-nama-manado/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suku Tugutil yang Bersahaja</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/03/03/suku-tugutil-yang-bersahaja/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/03/03/suku-tugutil-yang-bersahaja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 11:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[kita pe asal-usul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam kawasan usulan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata masih terdapat komunitas suku Togutil dan suku Tobelo yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli. Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=33&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam kawasan usulan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata masih terdapat komunitas suku Togutil dan suku Tobelo yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli. Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka <span id="more-33"></span>tidak berdinding dan berlantai papan panggung. Suku Tugutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara dan tengah, menggunakan bahasa Tobelo sama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo. Menurut Simon Ipo, penunjuk jalan kami yang juga sebagai ketua Jemaat wilayah itu, tidak ada perbedaan berarti antara bahasa yang dia gunakan (Tobelo) dengan bahasa orang Tugutil, kecuali iramanya. Kenyataanya, komunikasi antara Simon dengan orang-orang Tugutil sangat lancar, seperti tidak menunjukkan adanya perbedaan. Yang terlihat nyata berbeda, budaya dan ciri fisiknya. Orang Tugutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing, sementara orang Tobelo penghuni pesisir yang relatif maju. Selain itu fisik orang Tugutil, khususnya roman muka dan warna kulit, menunjukkan ciri-ciri Melayu yang lebih kuat daripada orang Tobelo. Ada cerita, orang Tugutil itu sebenarnya penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Pada 1915 Pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa Kusuri dan Tobelamo. Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan upaya itu mengalami kegagalan. Dari sini lah rupanya beredar cerita semacam itu. Namun cerita ini rupanya tidak benar. Orang-orang Tugutil memang penghuni hutan sejati, dan sayangnya aku tidak sempat mendengar cerita apa-apa mengenai asal-usul mereka. Di Totodoku, sekitar 9 atau 10 km dari daerah transmigrasi SP-2, di pinggir ruas jalan Subaim-Buli, tidak jauh dari sebuah sungai yang cukup besar kami menjumpai orang Tugutil. Tempat itu berupa pemukiman yang terdiri atas beberapa belas bangunan beratap daun sejenis palem yang kontruksinya sangat sederhana sehingga lebih tepat disebut gubuk daripada rumah. Penghuninya, terutama kaum lelaki, sedang berada di dalam hutan, dan beberapa orang lelaki dan wanita tua yang nyaris telanjang; lelaki hanya mengenakan cawat sedangkan wanita bertelanjang dada. Seorang pemburu tua yang kembali dari hutan, selain hanya bercawat juga membawa sebuah busur sepanjang kira-kira 2 meter dengan beberapa anak panah sepanjang kira-kira 1 meter, dan mata panahnya mereka buat sendiri dari sisa-sisa besi bangunan Sebenarnya, masyarakat Tugutil bukanlah masyarakat yang primitif dan terisolasi. Mereka nampak akrab dengan tukang ojek yang mengantar saya. Ini menandakan bahwa mereka telah sering bertemu; entah karena ojek yang sering kesana atau mereka yang sering turun ke SP-2. Meskipun kebanyakan rumah masih beratapkan daun palem, sebagian diantaranya sudah menggunakan balok dan papan olahan untuk tiang dan dinding. Di dapur, tempat kami meletakkan barang, nampak sejumlah peralatan makan dan masak seperti lazimnya dapur, kecuali kompor. Sementara, di antara mereka yang telanjang dada ternyata ada beberapa yang segera berpakaian ketika hendak menemuiku. Dari hasil obrolan, yang menarik adalah kenyataan bahwa beberapa penghuni pemukiman ini memiliki hubungan darah dengan pendatang asal Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara). Yang terakhir ini, katanya, datang ke situ pada 1958, ketika meletus pemberontakan Permesta di Sulawesi. Kehidupan Orang Tugutil sesungguhnya amat bersahaja. Mereka hidup dari memukul sagu, berburu babi dan rusa, mencari ikan di sungai-sungai, di samping berkebun. Mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual kepada orang-orang di pesisir. Kebun-kebun mereka ditanami dengan pisang, ketela, ubu jalar, pepaya dan tebu. Namun karena mereka suka berpindah-pindah, dapat diduga kalau kebun-kebun itu tidak diusahakan secara intesif. Dengan begitu, sebagaimana lazimnya di daerah-daerah yang memiliki suku primitif, hutan di daerah ini tidak memperlihatkan adanya gangguan yang berarti (Penulis: David Purmiasa &amp; Herman Teguh, pernah dimuat di <a href="http://www.korantempo.com">www.korantempo.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=33&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/03/03/suku-tugutil-yang-bersahaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Piring Antik di Talaud, Pedagang China di Quanzhou; Adakah hubungannya?</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/03/03/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya-2/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/03/03/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 11:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kita pe tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu obyek yang menarik dari daerah pesisir pulau-pulau Talaud adalah gua-gua pantainya. Gua-gua itu banyak yang berisi peninggalan bersejarah khususnya barang keramik. Di gua Totonbatu misalnya, barang-barang itu, yang berupa pecahan piring, pinggan, dll., bercampur dengan tulang belulang manusia sehingga menimbulkan kesan angker. Rupanya, gua itu bekas kuburan karena di masa lalu ada kebiasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=22&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu obyek yang menarik dari daerah pesisir pulau-pulau Talaud adalah gua-gua pantainya. Gua-gua itu banyak yang berisi peninggalan bersejarah khususnya barang keramik. Di gua Totonbatu misalnya, barang-barang itu, yang berupa pecahan piring, pinggan, dll., bercampur dengan tulang belulang manusia sehingga menimbulkan kesan angker. Rupanya, gua itu bekas kuburan karena di masa lalu ada kebiasaan umum membekali jenazah dengan barang keramik.</p>
<p>Menariknya, hampir semua keramik antik di tempat-tempat seperti itu asalnya dari daratan China. Yang paling tua diantaranya mungkin berasal dari masa Dinasti Tang (618-907), suatu masa yang cukup tua untuk ukuran sejarah Indonesia. Dengan demikian, keramik-keramik tersebut menjadi saksi bahwa Kepulauan Talaud pernah terkait dengan negara raksasa China – walaupun mungkin tidak secara langsung – pada saat sejarah Indonesia sendiri masih pada tahap-tahap awal. Pertanyaan yang menarik sekarang, bagaimana barang-barang itu bisa tiba disana, dan bagaimana keterlibatan orang China dalam hal ini?<span id="more-22"></span></p>
<p>Untuk menjawab hal itu, kita terlebih dahulu perlu meninjau beberapa rute pelayaran kuno yang biasa digunakan oleh pedagang China bila hendak ke Indonesia. Pertama yaitu rute timur, yaitu rute yang menyeberang dari pesisir China ke bagian selatan Taiwan, lalu menyusur sisi barat Kepulauan Filipina hingga ke Kepulauan Sulu dan dari sini masuk ke wilayah Indonesia. Kedua yaitu rute barat, yaitu rute yang menyusur pesisir China hingga Vietnam dan dari sini masuk ke wilayah Indonesia. Masing-masing rute memiliki banyak cabang yang menuju berbagai tempat. Rute barat misalnya, memiliki cabang-cabang yang menuju pesisir Pulau Jawa, Sumatera, dan Semenanjung Malaysia. Rute ini juga terhubung dengan kawasan perdagangan Laut Merah.</p>
<p>Rute timur memiliki cabang-cabang yang menuju tempat-tempat di Kepulauan Filipina dan pesisir Kalimantan utara. Cabang yang terkait dengan Talaud yaitu yang bermula dari Kepulauan Sulu. Dari sini cabang itu menuju ke dekat Pulau Basilan di ujung barat Mindanau, selanjutnya menyeberangi Laut Sulawesi, menuju Maluku dengan melewati perairan Sangihe dan Talaud, dan berakhir di Nusa Tenggara. Dalam tulisan ini kami menyebut rute cabang ini sebagai ”rute Maluku”.</p>
<p>Terkait dengan rute-rute diatas, maka dua kota di pesisir selatan China yang patut disebut yaitu Guangzhou dan Quanzhou. Guangzhou lebih banyak dihubungkan dengan rute barat, sedangkan Quanzhou dengan rute timur. Pada masa Song (960-1279) dan mungkin sebelumnya, Guangzhou lebih berperan daripada Quanzhou. Ini karena letaknya yang lebih ke selatan sehingga akan lebih dulu dicapai oleh rute barat yang pada masa itu diramaikan oleh misi-misi upeti dari Sriwijaya, Jawa, dan Asia Tenggara. Sebaliknya, Quanzhou yang terletak sedikit di utara tidak terlalu menonjol. Kota ini nanti bangkit pada paruh kedua dari masa Song, yakni sejak perdagangan di rute timur mulai aktif.</p>
<p>Menyangkut rute timur, meskipun China sudah terlibat dengan perdagangan disitu, tidak berarti bahwa mereka telah berdagang sampai ke Indonesia timur. Pada masa Song, pengetahuan mereka tentang kawasan ini masih kabur. Laporan-laporan memang sudah menyebut beberapa tempat di kawasan ini, tapi semuanya tanpa deskripsi dan mereka tidak menyebut bagaimana hubungannya dengan China. Jadi boleh dikata, batas pengetahuan geografi China pada waktu itu hanya sampai di sekitar bagian selatan Filipina atau sedikit di belakangnya. Dan kalaupun sudah ada, mungkin baru satu-dua kapal yang telah berlayar hingga ke Laut Sulawesi.</p>
<p>Pada masa Song perdagangan dengan kawasan timur Indonesia lebih banyak diantarai oleh pedagang-pedagang dari kawasan barat. Kerajaan Sriwijaya khususnya sangat berperan. Pengecualiannya mungkin Butuan dan Laut China Selatan. Butuan, yang terletak di bagian utara Mindanau, diketahui sudah memiliki kontak-kontak resmi dengan Song. Sementara di Laut China selatan, laporan-laporan Song memberi indikasi yang samar-samar tentang adanya lalulintas antara pesisir Vietnam di sebelah barat dengan Kalimantan Utara dan Filipina Selatan di sebelah timur. Ini mungkin menunjuk pada kegiatan pedagang lokal Kalimantan dan Filipina yang berdagang dengan kota-kota di Kerajaan Campa. Kota-kota di pesisir Vietnam memang dilalui oleh rute barat yang menuju Guangzhou. Dengan demikian, hubungan China dengan kawasan timur Indonesia seharusnya terjadi melalui Sriwijaya dan melalui jaringan perdagangan lokal Laut China Selatan termasuk Butuan. Dua yang terakhir mungkin yang lebih terkait dengan Talaud.</p>
<p>Dinasti Song kemudian digantikan oleh Dinasti Yuan (1271-1368), dinastinya orang Mongol. Pada masa ini, rute barat memang masih ramai oleh misi-misi upeti yang ke China. Akan tetapi situasi politik membawa perubahan. Di Pulau Jawa, Kerajaan Singasari mulai meluaskan pengaruhnya ke Sumatera. Ini membuat Yuan tidak senang dan lantas menyerang Jawa pada tahun 1292. Serangan ini membuat perdagangan di rute barat terganggu. Agaknya, banyak pedagang meninggalkan rute ini, sebagian diantaranya pindah ke rute timur. Guangzhou dirugikan, tapi sebaliknya Quanzhou memetik keuntungan. Kota di Propinsi Fujian ini menjadi pelabuhan utama bagi orang-orang Mongol. Dan memang, kapal-kapal yang dipakai untuk menyerang Singasari konon dibuat di kota ini.</p>
<p>Tapi kekuasaan Mongol hanya berlangsung singkat yakni 97 tahun. Daratan China kemudian dikuasai oleh Dinasti Ming (1368-1644), dinastinya orang China. Dari kacamata Sulawesi Utara, masa Ming ditandai dengan situasi yang berubah-ubah. Disini akan dikemukakan beberapa yang dianggap berpengaruh. Pada awal kekuasaannya, sebuah pemberontakan meletus di daerah Fujian. Karena banyak pedagang, terutama muslim, meninggalkan Quanzhou, perannya sebagai pusat dagang menjadi lemah. Tidak lama sesudah itu, Ming melarang rakyatnya berdagang ke luar negeri. Sebagai gantinya, Ming mengirimkan sejumlah ekspedisi ke berbagai tempat. Yang paling terkenal diantaranya yaitu pimpinan panglima Zheng He (Cheng Ho). Sebelumnya, Ming juga sempat bersitegang dengan Majapahit dalam soal klaim atas Kalimantan utara dan Sulu. Dalam kasus ini, Ming menunjukkan ketaksenangan dengan mengirim beberapa kapal ke Laut Sulawesi. Pertanyaannya sekarang, bagaimana peristiwa-peristiwa ini bisa diletakkan dalam konteks Talaud?</p>
<p>Pada masa Song dapat diduga bahwa keramik China yang masuk Talaud berasal dari rute barat, yakni dari kota-kota di Kerajaan Campa. Dari sini keramik-keramik itu masuk ke jaringan perdagangan lokal di Laut China Selatan (sekitar Kalimantan Utara dan Filipina Selatan). Selanjutnya – mungkin melalui pedagang-pedagang Sulu atau Mindanau Selatan atau bahkan orang Talaud sendiri – keramik-keramik itu tiba di Talaud. Kemungkinan lain, keramik-keramik itu masuk lewat Butuan di bagian utara Mindanau. Sebagaimana diketahui, selain berhubungan langsung dengan China, Butuan juga sedikitnya punya hubungan dengan perdagangan di Laut China Selatan melalui Mindoro di ujung barat Mindanau.</p>
<p>Tapi jika hubungan dengan China nanti terjadi pada masa Song, bagaimana keramik-keramik dinasti Tang yang lebih tua bisa muncul di Talaud? Salah satu penjelasan yang masuk akal yaitu bahwa keramik-keramik tersebut telah muncul terlambat. Artinya, keramik-keramik itu telah menempuh rantai perdagangan yang panjang sebelum tiba di Talaud, berpindah dari tangan ke tangan, dan lamanya bisa ratusan tahun. Ini adalah kasus yang sering terjadi dalam perdagangan kuno walaupun untuk Talaud, rute mana yang dilaluinya, kita tidak tahu.</p>
<p>Pada masa Yuan, aktifitas di rute timur yang meningkat telah mendorong pedagang-pedagang China untuk berlayar hingga ke kawasan timur Indonesia. Dorongan ini mungkin terkait dengan keinginan mencari daerah asal rempah-rempah dan kayu cendana. Pada masa ini lah untuk pertama kalinya nama-nama tempat di kawasan timur Indonesia, misalnya Kepulauan Banggai, Banda, pulau-pulau Maluku, dan Timor, muncul secara terperinci dalam sebuah laporan China. Laporan tersebut adalah Dao-yi zhi-lue yang ditulis pada tahun 1349/1350 oleh seorang bernama Wang Dayuan (Wang Ta-yuan). Menariknya, Wang Dayuan mengaku telah mengunjungi semua tempat yang disebutkan dalam laporannya itu (jumlahnya hampir seratus tempat!). Terlepas dari benar tidaknya, laporan itu memberi indikasi bahwa rute Maluku sudah terbentuk pada masa Wang Dayuan. Lebih jauh lagi, Talaud mungkin sudah disinggahi oleh kapal-kapal China sehingga tidak tertutup kemungkinan, orang Talaud kini memperoleh sebagian keramiknya langsung dari para pedagang China.</p>
<p>Akan tetapi itu nampaknya tidak berlangsung lama. Pemberontakan di Fujian pada masa transisi antara Yuan ke Ming serta larangan berdagang oleh Ming sesudah itu, jelas merugikan Quanzhou dan rute timur. Perdagangan menjadi lesu dan kelesuan itu tercermin dari laporan-laporan Ming sendiri. Selama paruh kedua abad 15 dan hampir sepanjang abad 16, tidak ada hal baru yang ditulis tentang rute timur. Terkait dengan ini, kami menduga kunjungan pedagang Quanzhou ke Talaud menjadi terhenti.</p>
<p>Rute timur sendiri baru pulih setelah larangan berdagang dilonggarkan oleh Kaisar Yongle tahun 1567. Ini ditandai antara lain dengan munculnya upeti-upeti ke istana Ming dari Luzon, Sulu, dan Kalimantan utara. Tapi apakah ini berarti bahwa pedagang asal Quanzhou kembali berdagang di Talaud? Kami tidak yakin. Larangan berdagang bukannya mematikan perdagangan, melainkan memarakkan aksi-aksi penyelundupan dan perdagangan, dan ini dikendalikan oleh orang-orang China perantauan. Dalam hal ini pegawai-pegawai Ming juga terlibat. Larangan ini menjadi awal dari eksodusnya orang-orang China ke Asia Tenggara. Jadi, kalau toh di Talaud ada pedagang China yang muncul, mereka nampaknya bukan dari Quanzhou tapi para pedagang yang sudah menetap di Asia Tenggara, dalam hal ini mungkin dari Filipina atau Kalimantan Utara. Selain itu, mereka mungkin tidak lagi membawa keramik buatan China melainkan buatan Asia Tenggara. Sebagaimana diketahui, pada masa itu beberapa tempat di Asia Tenggara seperti Sukothai sudah memproduksi keramiknya sendiri. Tapi hal ini perlu dibuktikan dengan penelitian terhadap keramik-keramik peninggalan itu sendiri.</p>
<p>Sekarang bagaimana dampak pertikaian Ming-Majapahit bagi Talaud? Dalam sebuah karya jaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama (ditulis tahun 1365), terdapat kata uda (lengkapnya udamakatraya) yang menunjuk pada sebuah tempat yang membayar pajak ke Majapahit. Tapi letaknya membingungkan. Oleh Th. Pigeaud yang menerjemahkan Negarakertagaman ke bahasa Inggris tahun 1960-an, uda ditafsir sebagai Talauda alias Talaud. Ini kemudian menjadi dasar dari munculnya keyakinan umum bahwa Talaud adalah bagian dari Majapahit (jajahan?). Jika ini benar, maka kapal-kapal Ming yang sedang menggertak Majapahit tentu akan memperlakukan Talaud sebagai musuh. Ini akan berdampak pada perdagangan China disitu. Sayangnya, sekarang tafsiran Pigaeud telah ditolak oleh beberapa ahli dengan bukti-bukti yang lebih meyakinkan. Salah satunya oleh Christian Pelras (1996/2006). Menurutnya kata Uda bukan menunjuk ke Talaud tapi ke sebuah tempat di Sulawesi Selatan. Dengan demikian, skenario di atas, tidak bisa diterima.</p>
<p>Sementara Majapahit menuju keruntuhannya, Ming justru sibuk dengan serangkaian ekspedisi yang dilancarkan ke berbagai tempat di Asia Tenggara dan Samudera Hindia antara 1403 dan 1430-an. Hajatan Ming kali ini benar-benar spektakuler. Konon, beberapa di antara ekspedisi itu menggunakan kapal terbesar yang pernah dibuat oleh manusia, dan juga melibatkan awak kapal yang berjumlah puluhan ribu. Bagi kawasan barat Indonesia yang menjadi prioritas ekspedisi-ekspedisi itu, akibatnya jelas. Di samping sejumlah insiden berdarah, upeti-upeti mulai mengalir ke istana Ming di Nanjing. Lalu bagaimana dengan Talaud? Talaud nampaknya memetik dampak yang mengesankan; lewat hajatan Ming ini lah ”nama” Pulau Salibabu dicatat untuk pertama kalinya dalam sebuah laporan resmi China.</p>
<p>Tapi pencatatan ini menimbulkan pertanyaan. Pencatatan itu sendiri dilakukan dalam Ying-yai Sheng-lan, yakni sebuah laporan yang ditulis tahun 1433 oleh seorang jurutulis bernama Ma Huan yang menyertai beberapa ekspedisi pimpinan Zheng He. Dalam laporan ini, Ma Huan menyebut tentang sebuah pulau bernama Shao-shan. Ketika Ying-yai Sheng-lan diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 1970 (oleh J.V.G. Mills), Shao-shan ditafsirkan sebagai Pulau Salibabu. Ini memunculkan anggapan yang berlaku hingga sekarang bahwa Salibabu sudah dikenal oleh orang China sejak jaman Ming.</p>
<p>Kami memang belum membaca terjemahan Ying-yai Sheng-lan itu, tetapi dari keterangan A.J. Ulaen (dalam Nusa Utara: dari lintasan niaga ke daerah perbatasan, 2003), kami menduga bahwa interpretasi Shao-shan sebagai Salibabu, berasal dari penerjemahnya, J.V.G. Mills. Patokan Mills dalam hal ini yaitu arah serta jaraknya dari Sulu sebagimana yang disebutkan dalam Ying-yai Sheng-lan. Pertanyaan kami, mengapa Mills hanya menginterpretasikan Shao-shan sebagai Salibabu. Mengapa bukan Karakelang atau Kabaruan? Dari kacamata seorang pelaut yang tengah berlayar dari Kepulauan Sulu, Salibabu bukan pulau tunggal atau yang terlihat paling menyolok ketika memasuki perairan Talaud. Ada dua pulau lain lagi yang berdekatan, yakni Karakelang dan Kabaruan; Karakelang misalnya, hanya terpisah dari Salibabu oleh selat selebar kira-kira 3 km.</p>
<p>Tapi seandainya tafsiran Mills benar, maka berarti bahwa waktu itu Salibabu sudah memiliki ”sesuatu” yang istimewa sehingga Ma Huan merasa perlu untuk mencatatnya. Karena menurut hemat kami tidak ada komoditi asal Salibabu yang bisa dianggap istimewa di mata Ming, maka satu-satunya alasan Ma Huan mencatatnya adalah karena disitu sudah ada orang China yang menetap. Saat ini Salibabu memang merupakan pulau dengan penduduk keturunan China terbanyak untuk Kabupaten Talaud. Pertanyaannya, bisakah dibuktikan bahwa orang-orang China Salibabu ini berasal dari jaman ekspedisi-ekspedisi Ming. Jika tidak, maka Salibabu mungkin hanya dicatat karena menjadi tempat kapal-kapal yang hendak mengambil air atau membeli makanan.</p>
<p>Menariknya, ekspedisi-ekspedisi Ming tersebut hanya mengorbitkan satu nama saja, yaitu Zheng He, seakan-akan hanya dia lah pemimpinnya. Ini memberi kesan bahwa pencatatan nama Salibabu juga berasal dari dia. Benarkah begitu? Agaknya tidak. Selama perhelatan itu, Ming telah mengirimkan sekurang-kurang 25 ekspedisi ke berbagai tempat di Asia Tenggara dan Samudera India, dan ini melibatkan kira-kira 15 orang pemimpin (panglima). Zheng He memang memimpin tujuh diantara ekspedisi itu, akan tujuh-tujuhnya hanya berlayar ke wilayah Lautan Barat (Xi-yang). Padahal Talaud terletak di wilayah Lautan Timur (Dong-yang).</p>
<p>Dalam sebuah kronik yang terbit sekitar 200 tahun kemudian (Shen-zong shi-lu, 1612) seorang menteri peperangan Ming telah menyebut bahwa Zheng He telah mengunjungi Luzon. Tapi statement ini menurut kami meragukan karena sejarah resmi Dinasti Ming (yaitu Ming shi-lu, selesai ditulis abad 17) sama sekali tidak menyebut kunjungan ini. Sementara dalam peta pelayaran Zheng He yang bisa dipercaya (misalnya yang dimuat dalam National Geographic Indonesia edisi Juli 2005), rute pelayaran Zheng He juga tidak digambar melalui Luzon atau Filipina. Kalau demikian, dari siapa Ma Huan mengutip catatan tentang pulau Salibabu?</p>
<p>Sebagaimana disinggung di atas, wilayah-wilayah di Lautan Timur menjadi tanggung jawab dari panglima-panglima yang lain. Salah seorang di antaranya yaitu yang bernama Zhang Qian, seorang yang yang tidak terlalu dikenal dalam sejarah Indonesia. Zhang Qian diketahui bertanggungjawab atas ekspedisi (baca: pemungutan pajak) ke daerah Sulu dan Luzon. Kami menduga, Zhang Qian lah yang bertanggung jawab atas pencatatan Salibabu ke dalam Ying-yai Sheng-lan. Namun, Zhang Qian juga nampaknya tidak mengunjungi Talaud (dia hanya sampai di Filipina). Jadi, ada kemungkinan bahwa informasi tentang Salibabu hanya dia peroleh dari penduduk lokal Sulu, atau Luzon. Kemungkinan lain, Ma Huan mengutip nama Shao-Shan dari orang-orang yang benar-benar pernah berlayar ke Indonesia Timur.</p>
<p>Apapun yang terjadi, Ming ternyata mengakhiri ekspedisi-ekspedisi yang memakan biaya amat tinggi itu dengan cara ironik. Tidak lama sesudah ekspedisi yang terakhir kembali ke China, tiba-tiba saja Ming menghentikan seluruh aktifitas maritimnya dan mulai mengunci diri dari dunia luar. Dan sementara orang China perantauan tengah mengembangkan jaringannya, perairan Asia Tenggara justru menyaksikan munculnya kapal-kapal Eropa. Tapi kedatangan mereka tak Cuma bermaksud berdagang. Dimulai dengan direbutnya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, satu per satu pusat dagang Asia Tenggara mereka kuasai. Akibatnya, peta perdagangan Asia Tenggara berubah. Maluku yang sebelumnya tidak terlalu menonjol di mata pedagang China, kini menjadi rebutan dari bangsa-bangsa Eropa. Sayangya untuk ke Maluku, orang Portugis dan kemudian juga Belanda, lebih suka memilih rute Laut Jawa ketimbang rute timur. Belakangan, permusuhan antara Belanda dan Spanyol juga berakibat pada ”putusnya” rute Maluku dari induknya rute timur; Spanyol menguasai Filipina dan Belanda menguasai Maluku. Dengan demikian, peran rute timur merosot.</p>
<p>Bagi Talaud akibatnya mungkin bisa digambarkan sebagai berikut. Larangan berdagang oleh Ming antara lain berdampak pada terbentuknya komunitas-komunitas China di sepanjang rute timur. Selain berdagang, mereka juga berperan sebagai ”batu loncatan” bagi rekan-rekan mereka yang keluar dari China kemudian. Dengan begitu ada kemungkinan bahwa orang China pertama yang menetap di Talaud telah datang dari salah satu batu loncatan ini. Dan jika hal ini terjadi ”sesaat” sesudah larangan berdagang pertama dikeluarkan, maka alasan Ma Huan untuk mencatat Salibabu dalam Ying-yai Sheng-lan masuk akal; di Talaud sudah ada orang China (sebagaimana Zheng He menemukannya di kota-kota pesisir pulau Jawa). Menetapnya orang China tentu membawa Talaud memasuki era baru; dia bukan lagi tempat persinggahan, tapi telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan China perantauan.</p>
<p>Dinasti Ming berakhir pada tahun 1644 ketika pemberontak Manchu merebut Beijing dan kaisar Ming terakhir bunuh diri. Lebih dari seratus tahun kemudian yakni pada bulan Januari tahun 1776, seorang kapten kapal Inggris bernama Thomas Forrest yang singgah di pelabuhan Lirung (Salibabu), mencatat pertemuannya dengan seorang China. China itu seorang yang buta, tapi darinya Forrest mendengar informasi tentang pulau-pulau Nanusa, sekitar 50 mil laut di sebelah timur laut Lirung, dan mencatatnya dalam laporan perjalanan. Apa yang dilaporkan Forrest mengindikasikan kepada kita bahwa suasana Lirung waktu itu sudah ”cukup kondusif” sehingga seorang asing yang buta macam China itu berani bermukim. Tidak tertutup kemungkinan, China itu mewakili satu komunitas kecil pedagang yang menetap. Kami berani memastikan disini bahwa diantara barang yang mereka perdagangkan, keramik pastilah terdapat.</p>
<p>*****</p>
<p>Tentu saja tidak semua keramik antik di Talaud datangnya dari tangan pedagang China. Pedagang lokal juga berperan. Khusus untuk kawasan timur Indonesia, peran pedagang lokal sebenarnya jauh lebih besar daripada pedagang China. Pedagang China dalam hal ini boleh dikata hanya aktif sampai di sekitar Kepulauan Sulu. Selebihnya pedagang lokal lah yang berperan. Dengan begitu, terlepas dari fluktuasi kunjungan sebagaimana yang digambarkan di atas, secara keseluruhan kita tidak bisa terlalu berharap bahwa Talaud pernah sangat ramai dikunjungi oleh pedagang China.</p>
<p>Sekarang, terlepas dari pedagang China atau bukan yang membawa keramik, jumlah peninggalan keramik di Talaud cukup banyak. Jumlah keramik pada satu sisi bisa mencerminkan daya beli yang tinggi. Bukankah keramik barang mewah? Tapi apakah hanya karena syarat religi semata, misalnya untuk syarat penguburan, yang bisa mendorong orang Talaud membeli keramik? Atau ada hal lain yang belum kita ketahui; misalnya prestise atau mas kawin? Kami tidak tahu. Yang pasti, adanya keramik China menjadi petunjuk jelas tentang kemandirian Talaud dalam mengembangkan perdagangan lokalnya di tengah-tengah perdagangan internasional waktu itu. Keramik-keramik ini lah yang seharusnya memperkokoh obyektifitas sejarah Talaud, bukan bayang-bayang romantis dari hegemoni Majapahit yang terlalu jauh itu.</p>
<p>Sewaktu kami tinggal di Talaud, kami menyaksikan banyak situs bersejarah yang terlantar. Kami juga mendengar tentang sebuah situs penuh keramik (dekat Lobbo?) yang hancur tergilas buldozer waktu pembangunan jalan. Kami khawatir, jangan-jangan ”tragedi” di Sulawesi Selatan – ketika sejumlah gua kapur yang berisi lukisan dinding berusia ribuan tahun sengaja dihancurkan oleh sebuah perusahan tambang untuk menghindarkan Pemerintah menetapkan gua-gua itu sebagai cagar budaya – akan berulang di Talaud. Disini kami menghimbau Pemerintah Kabupaten Talaud agar segera mengambil tindakan melindungi situs-situs bersejarah itu, termasuk menjaga benda-benda berharga itu dari upaya penyelundupan ke luar Talaud. Perlu juga diingatkan bahwa perlindungan tidak harus dengan cara memugar apalagi memindahkan barang-barang bersejarah itu ke lemari pajangan. Benda-benda itu harus tetap disitu sampai ada ada ahli yang meneliti dan memberi rekomendasi pemindahan. Dalam hal ini, ahli-ahli arkeologi mutlak perlu terlibat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=22&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/03/03/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Pencetus Teori Evolusi, Darwin atau Wallace?</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/02/26/siapa-pencetus-teori-evolusi-darwin-atau-wallace/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/02/26/siapa-pencetus-teori-evolusi-darwin-atau-wallace/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 14:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kita pe tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/2009/02/26/siapa-pencetus-teori-evolusi-darwin-atau-wallace/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini dimuat berseri di Harian Media Sulut kira-kira seminggu sebelum artikel "Jejak Wallace di Pesta Darwin" muncul di Harian Tempo edisi 8 Maret 2009<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=24&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Posisi Darwin sebagai pencetus teori evolusi sedang goyah. Bukti-bukti menunjukkan bahwa dia bukan yang pertama. Selain itu dia juga dituduh melakukan plagiarisme. Beberapa gagasan dari teori yang dia tulis dalam buku On the Origin of Species itu konon diilhami dari ide orang lain. Ironisnya, bukan cuma Darwin yang terlibat disini, tapi juga beberapa ilmuwan ternama, dan mereka adalah teman-teman baiknya. Benarkah demikian?</p>
<p>Charles Robert Darwin (1809-1882) mengawali karir ilmiahnya ketika usianya masih sangat muda. Dia baru 22 tahun ketika ikut dengan Beagle (1831), sebuah kapal penelitian yang akan berlayar di wilayah Atlantik, Pasific, dan perairan Australia selama 4 tahun untuk melakukan eksplorasi ilmiah. Tapi meskipun begitu, rasa ingin tahu yang besar telah mendorong dia untuk melakukan penyelidikan terhadap berbagai fenomena alam yang ditemuinya. Minat ini mengubah dia menjadi seorang ilmuwan yang disegani.<span id="more-24"></span></p>
<p>Fosil rupanya mendapat perhatian khusus karena selama perjalanan dia membawa buku Principles of Geology karya Charles Lyell yang baru terbit. Waktu itu, Lyell adalah ilmuwan terkemuka dan ‘teori-teori liar’ yang dikemukakan dalam buku itu membuat Darwin terpesona. Menurut Lyell, benua, daratan dan pegunungan tidak dibentuk oleh air bah zaman Nuh, tapi oleh hujan, angin, gempa bumi serta kekuatan alam lainnya. Lyell kemudian menjadi orang yang amat berperan dalam karir ilmiah Darwin.</p>
<p>Sekembalinya dari perjalanan, di tengah-tengah kesibukan menyusun laporan serta meneliti spesimen-spesimen yang dikoleksinya, Darwin mulai mengembangkan pemikiran tentang evolusi, antara lain tentang dari mana kah asal jenis. Dia juga menulis beberapa esai, di antaranya On Transmutation of Species (Tentang perubahan jenis, 1837). Dia meyakini beberapa hal yang waktu itu masih baru dan kontroversial seperti, keanekaragaman hayati tidak muncul karena sekali penciptaan, dan bahwa fosil adalah petunjuk bahwa jenis-jenis telah berganti dari waktu ke waktu.</p>
<p>Dalam bulan Oktober 1838, ketika secara tidak sengaja membaca karya Thomas Malthus An Essay on the Principle of Population (1803), dia merasa menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang tengah memusingkan dia. Dalam buku itu, Malthus menunjukkan bahwa seandainya tak ada perang, kelaparan dan penyakit, populasi manusia niscaya akan memenuhi dunia. Jadi ada peran seleksi dalam hal ini. Jika hal ini diterapkan di alam, maka berarti hanya variasi yang menguntungkan yang cenderung bertahan dalam kondisi seleksi, sementara yang tidak menguntungkan akan hancur. Pemikiran seperti ini membawa Darwin pada penerangan akan apa yang tengah dia pikirkan. Dia pun menulis, “Akhirnya saya menemukan teori untuk mulai bekerja”.</p>
<p>Tapi mungkin karena terlalu berhati-hati, atau juga karena gangguan kesehatan yang sering dialaminya, penulisan teori itu berlangsung lambat. Selama empat tahun pertama, Darwin hanya menulis sebuah ringkasan setebal 35 halaman (1822), menyusul dua tahun kemudian sebuah esai setebal 230 halaman (1844). Yang terakhir ini sempat dia tunjukkan kepada beberapa temannya.</p>
<p>Tapi dua karya itu bukan hasil akhir. Darwin yang hati-hati itu masih tetap merasa bahwa teorinya harus dilengkapi dengan bukti-bukti yang lebih banyak sebelum dipublikasikan. Sementara itu, dia juga sibuk dengan menelaah koleksi-koleksi yang diperoleh dari perjalanan dengan Beagle. Baru setelah lebih dari 10 tahun, yakni tahun 1855, dia mengaku hendak mulai menulis teorinya.</p>
<p>Tapi kenyataan bicara lain. Jauh di seberang lautan, di Kepulauan Indonesia yang terpisah oleh jarak lebih dari setengah keliling bumi, kenalannya yang bernama Alfred Wallace (1823-1913) ternyata sedang memikirkan hal yang sama. Wallace adalah seorang penyelidik alam. Tapi tidak seperti Darwin yang dibiayai orang tua ketika ikut dengan Beagle, Wallace justru membiayai perjalananya dari hasil menjual spesimen. Dia pernah ke Amazon (1848-1852) tapi kemudian menghabiskan sisa waktunya di Indonesia dimana dia menemukan garis khayal yang memisahkan antara binatang-binatang Indonesia barat dan timur yang kemudian dinamai menurut namanya, ‘Garis Wallace’.</p>
<p>Jika Darwin merenungkan teori-teorinya di atas kapal ilmiah, di lingkungan kampus, atau di rumahnya yang tenang di Kent, Inggris, Wallace justru melakukan itu di tempat-tempat yang terpencil, penuh resiko, jauh dari suasana akademik, dan di sela-sela pekerjaan menangkap, menguliti dan mengeringkan hasil buruan. Hanya sumber inspirasi mereka yang sama, yaitu Principles of Geology dan An Essay on the Principle of Population. Buku yang pertama, menyertai perjalanannya, sedangkan yang kedua konon dibacanya di sebuah perpustakaan umum di Inggris.</p>
<p>Dan ini yang terjadi. Ketika sedang melewatkan hari-hari berhujan di sebuah cottage kecil di kaki bukit berhutan lebat, tidak jauh dari Kuching, Sarawak, ilham itu datang dan Wallace mulai menulis. Kali ini agak berbeda, karena yang dia tulis bersifat teoritis. Dia menguraikan sepuluh fakta yang sangat dikenal dalam dalam bidang geografi dan geologi, antara lain, bahwa lingkungan yang mirip akan menghasilkan jenis yang mirip; tidak ada jenis atau kelompok jenis yang muncul dua kali; dst. Lalu dia sampai pada kesimpulan bahwa evolusi harus berlangsung di sepanjang waktu agar bisa dihasilkan jenis-jenis yang berbeda.</p>
<p>Wallace memberi judul esainya itu On the Law which has Regulated the Introduction of New Species lalu mengirimnya ke sebuah majalah ilmiah yang menerbitkannya dalam bulan September 1855. Karena ditulis di Sarawak, esai itu dikenal juga dengan nama “the Sarawak Law”.</p>
<p>Ketika membaca esai ini, Darwin berkomentar, “Saya bisa melihat bahwa kita memiliki pikiran yang sama, dan dalam batas tertentu telah sampai pada kesimpulan yang sama”. Namun demikian Darwin juga mengingatkan suatu hal, “Musim panas ini merupakan tahun ke-20 sejak saya membuat catatan pertama tentang bagaimana dan dengan cara apa jenis dan varietas bisa berbeda satu sama lain… Sekarang saya sedang menyiapkan publikasinya walaupun saya tahu subyeknya sangat luas…” Artinya Darwin sedang menyiapkan teorinya.</p>
<p>Tapi Wallace tak tinggal diam. Sarawak Law masih menuntun dia pada pemikiran berikutnya. Pikirnya, jenis-jenis berubah menjadi jenis baru karena ‘suksesi alam’. Jika perubahan itu berlangsung terus, berarti dunia akan penuh. Tapi kenyataannya tidak karena ternyata jenis juga bisa punah dan menjadi fosil, sebagaimana kata Principles of Geology. Berarti di alam ada proses yang mengatur kepunahan jenis. Tapi bagaimana proses itu?</p>
<p>Jawabannya datang dalam bulan Februari 1858 sewaktu Wallace di Maluku. Waktu itu dia tengah terbaring oleh serangan malaria dan kemudian teringat akan buku Malthus, Principles of Population, yang dia baca sekitar 12 tahun lalu. Inspirasi dari buku itu, menuntun dia menulis sebuah esai yang judulnya On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type (Tentang Kecenderungan Varietas untuk Meninggalkan Bentuk-bentuk Aslinya). Karena dibuat di Ternate, esai ini kemudian dikenal dengan nama ‘Ternate Paper’ (meskipun penelitian terakhir menunjukkan bahwa esai itu bukan ditulis di Ternate tapi mungkin di Dodinga, sebuah desa kecil di Halmahera).</p>
<p>Darwin menjadi orang pertama yang membaca esai itu karena Wallace mengirim kepadanya disertai permintaan agar diteruskan ke Lyell apabila layak untuk diterbitkan. Betapa terkejutnya Darwin. Apa yang digelutinya selama lebih dari 20 tahun, sekarang sudah diringkas oleh Wallace menjadi sebuah esai yang tebalnya hanya beberapa halaman. Darwin langsung frustasi. Kepada Lyell dia menulis dengan kecewa, “Tak pernah saya jumpai kebetulan yang begitu mengejutkan…..Dengan begitu seluruh keaslian gagasan saya, apapun nilainya, akan terpukul”</p>
<p>Sebelumnya, Darwin pernah mengaku bahwa dia sudah menyusun teorinya dalam bentuk buku 11 bab. Kini dia melanjutkan dengan nada merajuk, “Lebih baik saya bakar buku itu daripada dianggap berjiwa rendah oleh Wallace atau siapa pun”.</p>
<p>Lyell menyadari adanya krisis. Atas nama ilmu pengetahuan, Darwin tak boleh dibiarkan. Lyell lalu menghubungi temannya Sir Joseph Dalton Hooker, Direktur Kebun Raya Kew. Berdua mereka lalu menyusun rencana. Darwin akan dibujuk supaya mau memublikasikan beberapa karya sebelumnya. Sementara, Linnean Society juga akan diintervensi supaya baik karya Darwin maupun esai Wallace bisa dibacakan secara bersama-sama dalam pertemuan. Linnean Society adalah sebuah perkumpulan ilmiah bergengsi yang secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas karya-karya ilmiah para peneliti.</p>
<p>Skenario ini berhasil. Pada tanggal 1 Juli 1858, sebanyak 28 anggota Linnean Society dan 2 orang undangan berkumpul untuk – salah satunya – mendengar dan membahas karya Darwin-Wallace itu. Sayangnya, orang yang paling berkompeten untuk itu tidak bisa hadir; Darwin sedang menguburkan anaknya yang meninggal, sementara Wallace yang kurang dikenal sedang berkutat dengan buruannya di Manokwari.</p>
<p>Untung semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Darwin akhirnya luput dari kasus ‘dipermalukan’ oleh Wallace yang lebih muda dan hanya pengumpul spesimen. Proceeding pertemuan Linnean Society telah memberi dia legitimasi yang kuat, bahwa ‘teori evolusi berdasarkan seleksi alam’ telah lahir dari dia dan Wallace secara bersamaan. Kini Darwin bisa bekerja dengan tenang. Dia merampungkan edisi pertama dari On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for life, dan menerbitkannya pada tahun berikutnya. Badai kritik dan bahkan kutuk langsung berkecamuk. Dia dituduh menyangkal Tuhan. Tapi meskipun begitu, dia memperoleh gelar ‘pencetus teori evolusi’, sementara Wallace dilupakan.</p>
<p>Sekarang, 150 tahun sudah berlalu. Tapi cerita di balik pertemuan Linnean Society 1 Juli 1858 ternyata masih menyisakan bau tak sedap. Bagaimana tidak. Darwin mengaku menerima Ternate Paper pada tanggal 18 Juni 1858, sementara esai itu ditandatangani Wallace pada bulan Februari 1858. Artinya, butuh waktu empat bulan bagi paper itu untuk mencapai Inggris dari Ternate. Ini sedikit janggal. Dengan kondisi pos waktu itu, Ternate Paper harusnya sudah sampai di tangan Darwin paling tidak seminggu sebelum tanggal 18 Juni. Buktinya, sebuah surat lain yang kebetulan dikirim Wallace ke Leicester pada waktu itu ternyata tiba di Leicester tanggal 3 Juni. Mengapa paper yang dikirim untuk Darwin di Kent harus terlambat dua minggu?</p>
<p>Sayangnya, jawabannya akan tetap misteri karena surat serta amplop yang menyertai Ternate Paper itu telah hilang. Dan kehilangan ini nampaknya disengaja karena Darwin biasanya sangat rapi dalam menyimpan korespondensinya. Pertanyaannya, mengapa dokumen-dokumen itu harus dihilangkan?</p>
<p>Darwin telah menggumuli teori evolusi lebih dari 20 tahun. Meskipun begitu, tetap saja ada beberapa hal yang belum terjawab dan ternyata Ternate Paper yang dikirim oleh Wallace menjawab hal itu. Pada tanggal 8 Juni Darwin tiba-tiba menyurat ke Hooker dan mengatakan bahwa ‘kunci’ teori itu sudah ditemukan. Tentu saja dia tidak mengatakan kalau jawaban itu diperoleh dari paper Wallace. Jadi yang mungkin dia lakukan adalah menyembunyikan hal itu dengan mengarang cerita bahwa paper itu baru diterima tanggal 18 Juni. Dan untuk menyempurnakannya, surat berserta amplop yang mengandung bukti cap pos dilenyapkan.</p>
<p>Lyell dan Hooker, sebagamana dikemukakan di atas, memang ikut memuluskan langkah Darwin untuk memenangkan persaingan ini. Sebagaimana diketahui, Wallace telah meminta Darwin untuk memberikan Ternate Paper ke Lyell untuk diterbitkan. Darwin memang memenuhinya, tapi dia juga ingin mengingatkan Lyell bahwa jika paper itu diterbitkan, usahanya akan sia-sia. Untuk itu dia merajuk kepada Lyell dengan mengancam akan membakar bukunya. Lyell langsung terpengaruh meski belum melihat buku yang dimaksud Darwin itu. Selain itu Lyell juga sadar akan kekalahan Darwin seandainya Ternate Paper langsung dipublikasikan. Jadi, bersama-sama dengan Hooker dia berusaha untuk menghalangi. Cara yang sopan yaitu Ternate Paper dibacakan bersama-sama dengan karya Wallace.</p>
<p>Tapi Darwin tak siap. Tulisan yang dibacakan dalam pertemuan Linnean Society waktu itu adalah ‘daur ulang’ dari karya-karya lamanya, yakni; Ringkasan dari Manuskrip Tentang Jenis yang Ditulis Tahun 1839 dan Disalin tahun 1844 dan Ringkasan dari Surat yang Dikirim ke Prof. Asa Gray di Boston, Amerika, pada Bulan Oktober 1857. Lalu dimana buku yang 11 bab yang hendak dibakar itu? Mengapa Darwin tak membuat saja ringkasannya, bukankah isinya lebih baru? Ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, waktu Darwin sangat sempit. Dia tak sempat lagi membuat ringkasan sehingga ‘manuskrip tentang jenis’ dianggap sudah cukup untuk mewakili. Kedua, buku 11 bab yang hendak dia bakar itu memang tidak ada, belum ada, atau masih dalam angan-angan Darwin.</p>
<p>Pertemuan Linnean Society sendiri diwarnai ketakberesan. Lyell dan Hooker baru memberitahu soal paper Darwin-Wallace sehari sebelum pertemuan berlangsung. Nadanya agak mendesak, yakni agar Sekretaris Perkumpulan menyelipkan agenda tambahan untuk itu. Karena naskah tulisan Darwin dan Wallace baru diserahkan bersama surat itu, maka isinya baru diketahui peserta pada saat pertemuan berlangsung. Jelas ini mempengaruhi jalannya diskusi. Banyak peserta bertanya-tanya, sebagian malah diam karena topiknya ‘terlalu baru’ untuk ukuran waktu itu. Dan ketika pertemuan berlangsung, justru karya ‘daur ulang’ Darwin yang lebih dulu dibacakan baru Ternate Paper. Lyell dan Hooker yang bertanggungjawab dalam hal ini.</p>
<p>Sekarang kita mungkin bertanya, mengapa Wallace harus mengirimkan Ternate Paper ke Darwin? Mengapa misalnya dia tidak langsung saja ke jurnal atau ke penerbit? Bukankah ini sudah dia lakukan untuk Sarawak Law? Jawabnya adalah bahwa Wallace hendak menunjukkan rasa hormatnya kepada Darwin yang lebih senior. Dari tanggapan Darwin terhadap Sarawak Law sebelumnya, Wallace tahu kalau Darwin tertarik dengan topik yang dia bahas itu. Makanya, ketika Ternate Paper selesai, Wallace merasa perlu untuk mengirim ke Darwin terlebih dahulu karena Darwin pasti tertarik. Kita lihat disini, betapa lainnya sejarah ilmu pengetahuan seandainya Wallace tidak mengirim Ternate Paper ke Darwin (Oleh Herman Teguh, pernah mengikuti kegiatan investigasi ‘Ternate Paper’ di Ternate dan Halmahera).   PERNAH DIMUAT DI HARIAN MEDIA SULUT EDISI 2, 3, 4 MARET 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=24&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/02/26/siapa-pencetus-teori-evolusi-darwin-atau-wallace/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Piring Antik di Talaud, Pedagang China di Quanzhou; Adakah hubungannya?</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/02/18/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/02/18/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 05:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kita pe tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/2009/02/18/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu obyek yang menarik dari daerah pesisir pulau-pulau Talaud adalah gua-gua pantainya. Gua-gua itu banyak yang berisi peninggalan bersejarah khususnya barang keramik. Di gua Totonbatu misalnya, barang-barang itu, yang berupa pecahan piring, pinggan, dll., bercampur dengan tulang belulang manusia sehingga menimbulkan kesan angker. Rupanya, gua itu bekas kuburan karena di masa lalu ada kebiasaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=21&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu obyek yang menarik dari daerah pesisir pulau-pulau Talaud adalah gua-gua pantainya.  Gua-gua itu banyak yang berisi peninggalan bersejarah khususnya barang keramik.  Di gua Totonbatu misalnya, barang-barang itu, yang berupa pecahan piring, pinggan, dll., bercampur dengan tulang belulang manusia sehingga menimbulkan kesan angker.  Rupanya, gua itu bekas kuburan karena di masa lalu ada kebiasaan umum membekali jenazah dengan barang keramik.</p>
<p>Menariknya, hampir semua keramik antik di tempat-tempat seperti itu asalnya dari daratan China.  Yang paling tua diantaranya mungkin berasal dari masa Dinasti Tang (618-907), suatu masa yang cukup tua untuk ukuran sejarah Indonesia.  Dengan demikian, keramik-keramik tersebut menjadi saksi bahwa Kepulauan Talaud pernah terkait dengan negara raksasa China – walaupun mungkin tidak secara langsung – pada saat sejarah Indonesia sendiri masih pada tahap-tahap awal.  Pertanyaan yang menarik sekarang, bagaimana barang-barang itu bisa tiba disana, dan bagaimana keterlibatan orang China dalam hal ini?<span id="more-21"></span></p>
<p>Untuk menjawab hal itu, kita terlebih dahulu perlu meninjau beberapa rute pelayaran kuno yang biasa digunakan oleh pedagang China bila hendak ke Indonesia.  Pertama yaitu rute timur, yaitu rute yang menyeberang dari pesisir China ke bagian selatan Taiwan, lalu menyusur sisi barat Kepulauan Filipina hingga ke Kepulauan Sulu dan dari sini masuk ke wilayah Indonesia.  Kedua yaitu rute barat, yaitu rute yang menyusur pesisir China hingga Vietnam dan dari sini masuk ke wilayah Indonesia.  Masing-masing rute memiliki banyak cabang yang menuju berbagai tempat.  Rute barat misalnya, memiliki cabang-cabang yang menuju pesisir Pulau Jawa, Sumatera, dan Semenanjung Malaysia.  Rute ini juga terhubung dengan kawasan perdagangan Laut Merah.</p>
<p>Rute timur memiliki cabang-cabang yang menuju tempat-tempat di Kepulauan Filipina dan pesisir Kalimantan utara.  Cabang yang terkait dengan Talaud yaitu yang bermula dari Kepulauan Sulu.  Dari sini cabang itu menuju ke dekat Pulau Basilan di ujung barat Mindanau, selanjutnya menyeberangi Laut Sulawesi, menuju Maluku dengan melewati perairan Sangihe dan Talaud, dan berakhir di Nusa Tenggara.  Dalam tulisan ini kami menyebut rute cabang ini sebagai ”rute Maluku”.</p>
<p>Terkait dengan rute-rute diatas, maka dua kota di pesisir selatan China yang patut disebut yaitu Guangzhou dan Quanzhou.  Guangzhou lebih banyak dihubungkan dengan rute barat, sedangkan Quanzhou dengan rute timur.  Pada masa Song (960-1279) dan mungkin sebelumnya, Guangzhou lebih berperan daripada Quanzhou.  Ini karena letaknya yang lebih ke selatan sehingga akan lebih dulu dicapai oleh rute barat yang pada masa itu diramaikan oleh misi-misi upeti dari Sriwijaya, Jawa, dan Asia Tenggara.  Sebaliknya, Quanzhou yang terletak sedikit di utara tidak terlalu menonjol.  Kota ini nanti bangkit pada paruh kedua dari masa Song, yakni sejak perdagangan di rute timur mulai aktif.</p>
<p>Menyangkut rute timur, meskipun China sudah terlibat dengan perdagangan disitu, tidak berarti bahwa mereka telah berdagang sampai ke Indonesia timur.  Pada masa Song, pengetahuan mereka tentang kawasan ini masih kabur.  Laporan-laporan memang sudah menyebut beberapa tempat di kawasan ini, tapi semuanya tanpa deskripsi dan mereka tidak menyebut bagaimana hubungannya dengan China.  Jadi boleh dikata, batas pengetahuan geografi China pada waktu itu hanya sampai di sekitar bagian selatan Filipina atau sedikit di belakangnya.  Dan kalaupun sudah ada, mungkin baru satu-dua kapal yang telah berlayar hingga ke Laut Sulawesi.</p>
<p>Pada masa Song perdagangan dengan kawasan timur Indonesia lebih banyak diantarai oleh pedagang-pedagang dari kawasan barat.  Kerajaan Sriwijaya khususnya sangat berperan.  Pengecualiannya mungkin Butuan dan Laut China Selatan.  Butuan, yang terletak di bagian utara Mindanau, diketahui sudah memiliki kontak-kontak resmi dengan Song.  Sementara di Laut China selatan, laporan-laporan Song memberi indikasi yang samar-samar tentang adanya lalulintas antara pesisir Vietnam di sebelah barat dengan Kalimantan Utara dan Filipina Selatan di sebelah timur.  Ini mungkin menunjuk pada kegiatan pedagang lokal Kalimantan dan Filipina yang berdagang dengan kota-kota di Kerajaan Campa.  Kota-kota di pesisir Vietnam memang dilalui oleh rute barat yang menuju Guangzhou.  Dengan demikian, hubungan China dengan kawasan timur Indonesia seharusnya terjadi melalui Sriwijaya dan melalui jaringan perdagangan lokal Laut China Selatan termasuk Butuan.  Dua yang terakhir mungkin yang lebih terkait dengan Talaud.</p>
<p>Dinasti Song kemudian digantikan oleh Dinasti Yuan (1271-1368), dinastinya orang Mongol.  Pada masa ini, rute barat memang masih ramai oleh misi-misi upeti yang ke China.  Akan tetapi situasi politik membawa perubahan.  Di Pulau Jawa, Kerajaan Singasari mulai meluaskan pengaruhnya ke Sumatera.  Ini membuat Yuan tidak senang dan lantas menyerang Jawa pada tahun 1292.  Serangan ini membuat perdagangan di rute barat terganggu.  Agaknya, banyak pedagang meninggalkan rute ini, sebagian diantaranya pindah ke rute timur.  Guangzhou dirugikan, tapi sebaliknya Quanzhou memetik keuntungan.  Kota di Propinsi Fujian ini menjadi pelabuhan utama bagi orang-orang Mongol.  Dan memang, kapal-kapal yang dipakai untuk menyerang Singasari konon dibuat di kota ini.</p>
<p>Tapi kekuasaan Mongol hanya berlangsung singkat yakni 97 tahun.  Daratan China kemudian dikuasai oleh Dinasti Ming (1368-1644), dinastinya orang China.  Dari kacamata Sulawesi Utara, masa Ming ditandai dengan situasi yang berubah-ubah.  Disini akan dikemukakan beberapa yang dianggap berpengaruh.  Pada awal kekuasaannya, sebuah pemberontakan meletus di daerah Fujian.  Karena banyak pedagang, terutama muslim, meninggalkan Quanzhou, perannya sebagai pusat dagang menjadi lemah.  Tidak lama sesudah itu, Ming melarang rakyatnya berdagang ke luar negeri.  Sebagai gantinya, Ming mengirimkan sejumlah ekspedisi ke berbagai tempat.  Yang paling terkenal diantaranya yaitu pimpinan panglima Zheng He (Cheng Ho).  Sebelumnya, Ming juga sempat bersitegang dengan Majapahit dalam soal klaim atas Kalimantan utara dan Sulu.  Dalam kasus ini, Ming menunjukkan ketaksenangan dengan mengirim beberapa kapal ke Laut Sulawesi.  Pertanyaannya sekarang, bagaimana peristiwa-peristiwa ini bisa diletakkan dalam konteks Talaud?</p>
<p>Pada masa Song dapat diduga bahwa keramik China yang masuk Talaud berasal dari rute barat, yakni dari kota-kota di Kerajaan Campa.  Dari sini keramik-keramik itu masuk ke jaringan perdagangan lokal di Laut China Selatan (sekitar Kalimantan Utara dan Filipina Selatan).  Selanjutnya – mungkin melalui pedagang-pedagang Sulu atau Mindanau Selatan atau bahkan orang Talaud sendiri – keramik-keramik itu tiba di Talaud.  Kemungkinan lain, keramik-keramik itu masuk lewat Butuan di bagian utara Mindanau.  Sebagaimana diketahui, selain berhubungan langsung dengan China, Butuan juga sedikitnya punya hubungan dengan perdagangan di Laut China Selatan melalui Mindoro di ujung barat Mindanau.</p>
<p>Tapi jika hubungan dengan China nanti terjadi pada masa Song, bagaimana keramik-keramik dinasti Tang yang lebih tua bisa muncul di Talaud?  Salah satu penjelasan yang masuk akal yaitu bahwa keramik-keramik tersebut telah muncul terlambat.  Artinya, keramik-keramik itu telah menempuh rantai perdagangan yang panjang sebelum tiba di Talaud, berpindah dari tangan ke tangan, dan lamanya bisa ratusan tahun.  Ini adalah kasus yang sering terjadi dalam perdagangan kuno walaupun untuk Talaud, rute mana yang dilaluinya, kita tidak tahu.</p>
<p>Pada masa Yuan, aktifitas di rute timur yang meningkat telah mendorong pedagang-pedagang China untuk berlayar hingga ke kawasan timur Indonesia.  Dorongan ini mungkin terkait dengan keinginan mencari daerah asal rempah-rempah dan kayu cendana.  Pada masa ini lah untuk pertama kalinya nama-nama tempat di kawasan timur Indonesia, misalnya Kepulauan Banggai, Banda, pulau-pulau Maluku, dan Timor, muncul secara terperinci dalam sebuah laporan China.  Laporan tersebut adalah Dao-yi zhi-lue yang ditulis pada tahun 1349/1350 oleh seorang bernama Wang Dayuan (Wang Ta-yuan).  Menariknya, Wang Dayuan mengaku telah mengunjungi semua tempat yang disebutkan dalam laporannya itu (jumlahnya hampir seratus tempat!).  Terlepas dari benar tidaknya, laporan itu memberi indikasi bahwa rute Maluku sudah terbentuk pada masa Wang Dayuan.  Lebih jauh lagi, Talaud mungkin sudah disinggahi oleh kapal-kapal China sehingga tidak tertutup kemungkinan, orang Talaud kini memperoleh sebagian keramiknya langsung dari para pedagang China.</p>
<p>Akan tetapi itu nampaknya tidak berlangsung lama.  Pemberontakan di Fujian pada masa transisi antara Yuan ke Ming serta larangan berdagang oleh Ming sesudah itu, jelas merugikan Quanzhou dan rute timur.  Perdagangan menjadi lesu dan kelesuan itu tercermin dari laporan-laporan Ming sendiri.  Selama paruh kedua abad 15 dan hampir sepanjang abad 16, tidak ada hal baru yang ditulis tentang rute timur.  Terkait dengan ini, kami menduga kunjungan pedagang Quanzhou ke Talaud menjadi terhenti.</p>
<p>Rute timur sendiri baru pulih setelah larangan berdagang dilonggarkan oleh Kaisar Yongle tahun 1567.  Ini ditandai antara lain dengan munculnya upeti-upeti ke istana Ming dari Luzon, Sulu, dan Kalimantan utara.  Tapi apakah ini berarti bahwa pedagang asal Quanzhou kembali berdagang di Talaud?  Kami tidak yakin.  Larangan berdagang bukannya mematikan perdagangan, melainkan memarakkan aksi-aksi penyelundupan dan perdagangan, dan ini dikendalikan oleh orang-orang China perantauan.  Dalam hal ini pegawai-pegawai Ming juga terlibat.  Larangan ini menjadi awal dari eksodusnya orang-orang China ke Asia Tenggara.  Jadi, kalau toh di Talaud ada pedagang China yang muncul, mereka nampaknya bukan dari Quanzhou tapi para pedagang yang sudah menetap di Asia Tenggara, dalam hal ini mungkin dari Filipina atau Kalimantan Utara.  Selain itu, mereka mungkin tidak lagi membawa keramik buatan China melainkan buatan Asia Tenggara.  Sebagaimana diketahui, pada masa itu beberapa tempat di Asia Tenggara seperti Sukothai sudah memproduksi keramiknya sendiri.  Tapi hal ini perlu dibuktikan dengan penelitian terhadap keramik-keramik peninggalan itu sendiri.</p>
<p>Sekarang bagaimana dampak pertikaian Ming-Majapahit bagi Talaud?  Dalam sebuah karya jaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama (ditulis tahun 1365), terdapat kata uda (lengkapnya udamakatraya) yang menunjuk pada sebuah tempat yang membayar pajak ke Majapahit.  Tapi letaknya membingungkan.  Oleh Th. Pigeaud yang menerjemahkan Negarakertagaman ke bahasa Inggris tahun 1960-an, uda ditafsir sebagai Talauda alias Talaud.  Ini kemudian menjadi dasar dari munculnya keyakinan umum bahwa Talaud adalah bagian dari Majapahit (jajahan?).  Jika ini benar, maka kapal-kapal Ming yang sedang menggertak Majapahit tentu akan memperlakukan Talaud sebagai musuh.  Ini akan berdampak pada perdagangan China disitu.  Sayangnya, sekarang tafsiran Pigaeud telah ditolak oleh beberapa ahli dengan bukti-bukti yang lebih meyakinkan.  Salah satunya oleh Christian Pelras (1996/2006).  Menurutnya kata Uda bukan menunjuk ke Talaud tapi ke sebuah tempat di Sulawesi Selatan.  Dengan demikian, skenario di atas, tidak bisa diterima.</p>
<p>Sementara Majapahit menuju keruntuhannya, Ming justru sibuk dengan serangkaian ekspedisi yang dilancarkan ke berbagai tempat di Asia Tenggara dan Samudera Hindia antara 1403 dan 1430-an.  Hajatan Ming kali ini benar-benar spektakuler.  Konon, beberapa di antara ekspedisi itu menggunakan kapal terbesar yang pernah dibuat oleh manusia, dan juga melibatkan awak kapal yang berjumlah puluhan ribu.  Bagi kawasan barat Indonesia yang menjadi prioritas ekspedisi-ekspedisi itu, akibatnya jelas.  Di samping sejumlah insiden berdarah, upeti-upeti mulai mengalir ke istana Ming di Nanjing.  Lalu bagaimana dengan Talaud?  Talaud nampaknya memetik dampak yang mengesankan; lewat hajatan Ming ini lah ”nama” Pulau Salibabu dicatat untuk pertama kalinya dalam sebuah laporan resmi China.</p>
<p>Tapi pencatatan ini menimbulkan pertanyaan.  Pencatatan itu sendiri dilakukan dalam Ying-yai Sheng-lan, yakni sebuah laporan yang ditulis tahun 1433 oleh seorang jurutulis bernama Ma Huan yang menyertai beberapa ekspedisi pimpinan Zheng He.  Dalam laporan ini, Ma Huan menyebut tentang sebuah pulau bernama Shao-shan.  Ketika Ying-yai Sheng-lan diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 1970 (oleh J.V.G. Mills), Shao-shan ditafsirkan sebagai Pulau Salibabu.  Ini memunculkan anggapan yang berlaku hingga sekarang bahwa Salibabu sudah dikenal oleh orang China sejak jaman Ming.</p>
<p>Kami memang belum membaca terjemahan Ying-yai Sheng-lan itu, tetapi dari keterangan A.J. Ulaen (dalam Nusa Utara: dari lintasan niaga ke daerah perbatasan, 2003), kami menduga bahwa interpretasi Shao-shan sebagai Salibabu, berasal dari penerjemahnya, J.V.G. Mills.  Patokan Mills dalam hal ini yaitu arah serta jaraknya dari Sulu sebagimana yang disebutkan dalam Ying-yai Sheng-lan.  Pertanyaan kami, mengapa Mills hanya menginterpretasikan Shao-shan sebagai Salibabu.  Mengapa bukan Karakelang atau Kabaruan?  Dari kacamata seorang pelaut yang tengah berlayar dari Kepulauan Sulu, Salibabu bukan pulau tunggal atau yang terlihat paling menyolok ketika memasuki perairan Talaud.  Ada dua pulau lain lagi yang berdekatan, yakni Karakelang dan Kabaruan; Karakelang misalnya, hanya terpisah dari Salibabu oleh selat selebar kira-kira 3 km.</p>
<p>Tapi seandainya tafsiran Mills benar, maka berarti bahwa waktu itu Salibabu sudah memiliki ”sesuatu” yang istimewa sehingga Ma Huan merasa perlu untuk mencatatnya.  Karena menurut hemat kami tidak ada komoditi asal Salibabu yang bisa dianggap istimewa di mata Ming, maka satu-satunya alasan Ma Huan mencatatnya adalah karena disitu sudah ada orang China yang menetap.  Saat ini Salibabu memang merupakan pulau dengan penduduk keturunan China terbanyak untuk Kabupaten Talaud.  Pertanyaannya, bisakah dibuktikan bahwa orang-orang China Salibabu ini berasal dari jaman ekspedisi-ekspedisi Ming.  Jika tidak, maka Salibabu mungkin hanya dicatat karena menjadi tempat kapal-kapal yang hendak mengambil air atau membeli makanan.</p>
<p>Menariknya, ekspedisi-ekspedisi Ming tersebut hanya mengorbitkan satu nama saja, yaitu Zheng He, seakan-akan hanya dia lah pemimpinnya.  Ini memberi kesan bahwa pencatatan nama Salibabu juga berasal dari dia.  Benarkah begitu?  Agaknya tidak.  Selama perhelatan itu, Ming telah mengirimkan sekurang-kurang 25 ekspedisi ke berbagai tempat di Asia Tenggara dan Samudera India, dan ini melibatkan kira-kira 15 orang pemimpin (panglima).  Zheng He memang memimpin tujuh diantara ekspedisi itu, akan tujuh-tujuhnya hanya berlayar ke wilayah Lautan Barat (Xi-yang).  Padahal Talaud terletak di wilayah Lautan Timur (Dong-yang).</p>
<p>Dalam sebuah kronik yang terbit sekitar 200 tahun kemudian (Shen-zong shi-lu, 1612) seorang menteri peperangan Ming telah menyebut bahwa Zheng He telah mengunjungi Luzon.  Tapi statement ini menurut kami meragukan karena sejarah resmi Dinasti Ming (yaitu Ming shi-lu, selesai ditulis abad 17) sama sekali tidak menyebut kunjungan ini.  Sementara dalam peta pelayaran Zheng He yang bisa dipercaya (misalnya yang dimuat dalam National Geographic Indonesia edisi Juli 2005), rute pelayaran Zheng He juga tidak digambar melalui Luzon atau Filipina.  Kalau demikian, dari siapa Ma Huan mengutip catatan tentang pulau Salibabu?</p>
<p>Sebagaimana disinggung di atas, wilayah-wilayah di Lautan Timur menjadi tanggung jawab dari panglima-panglima yang lain.  Salah seorang di antaranya yaitu yang bernama Zhang Qian, seorang yang yang tidak terlalu dikenal dalam sejarah Indonesia.  Zhang Qian diketahui bertanggungjawab atas ekspedisi (baca: pemungutan pajak) ke daerah Sulu dan Luzon.  Kami menduga, Zhang Qian lah yang bertanggung jawab atas pencatatan Salibabu ke dalam Ying-yai Sheng-lan.  Namun, Zhang Qian juga nampaknya tidak mengunjungi Talaud (dia hanya sampai di Filipina).  Jadi, ada kemungkinan bahwa informasi tentang Salibabu hanya dia peroleh dari penduduk lokal Sulu, atau Luzon.  Kemungkinan lain, Ma Huan mengutip nama Shao-Shan dari orang-orang yang benar-benar pernah berlayar ke Indonesia Timur.</p>
<p>Apapun yang terjadi, Ming ternyata mengakhiri ekspedisi-ekspedisi yang memakan biaya amat tinggi itu dengan cara ironik.  Tidak lama sesudah ekspedisi yang terakhir kembali ke China, tiba-tiba saja Ming menghentikan seluruh aktifitas maritimnya dan mulai mengunci diri dari dunia luar.  Dan sementara orang China perantauan tengah mengembangkan jaringannya, perairan Asia Tenggara justru menyaksikan munculnya kapal-kapal Eropa.  Tapi kedatangan mereka tak Cuma bermaksud berdagang.  Dimulai dengan direbutnya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, satu per satu pusat dagang Asia Tenggara mereka kuasai.  Akibatnya, peta perdagangan Asia Tenggara berubah.  Maluku yang sebelumnya tidak terlalu menonjol di mata pedagang China, kini menjadi rebutan dari bangsa-bangsa Eropa.  Sayangya untuk ke Maluku, orang Portugis dan kemudian juga Belanda, lebih suka memilih rute Laut Jawa ketimbang rute timur.  Belakangan, permusuhan antara Belanda dan Spanyol juga berakibat pada ”putusnya” rute Maluku dari induknya rute timur; Spanyol menguasai Filipina dan Belanda menguasai Maluku.  Dengan demikian, peran rute timur merosot.</p>
<p>Bagi Talaud akibatnya mungkin bisa digambarkan sebagai berikut.  Larangan berdagang oleh Ming antara lain berdampak pada terbentuknya komunitas-komunitas China di sepanjang rute timur.  Selain berdagang, mereka juga berperan sebagai ”batu loncatan” bagi rekan-rekan mereka yang keluar dari China kemudian.  Dengan begitu ada kemungkinan bahwa orang China pertama yang menetap di Talaud telah datang dari salah satu batu loncatan ini.  Dan jika hal ini terjadi ”sesaat” sesudah larangan berdagang pertama dikeluarkan, maka alasan Ma Huan untuk mencatat Salibabu dalam Ying-yai Sheng-lan masuk akal; di Talaud sudah ada orang China (sebagaimana Zheng He menemukannya di kota-kota pesisir pulau Jawa).  Menetapnya orang China tentu membawa Talaud memasuki era baru; dia bukan lagi tempat persinggahan, tapi telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan China perantauan.</p>
<p>Dinasti Ming berakhir pada tahun 1644 ketika pemberontak Manchu merebut Beijing dan kaisar Ming terakhir bunuh diri.  Lebih dari seratus tahun kemudian yakni pada bulan Januari tahun 1776, seorang kapten kapal Inggris bernama Thomas Forrest yang singgah di pelabuhan Lirung (Salibabu), mencatat pertemuannya dengan seorang China.  China itu seorang yang buta, tapi darinya Forrest mendengar informasi tentang pulau-pulau Nanusa, sekitar 50 mil laut di sebelah timur laut Lirung, dan mencatatnya dalam laporan perjalanan.  Apa yang dilaporkan Forrest mengindikasikan kepada kita bahwa suasana Lirung waktu itu sudah ”cukup kondusif” sehingga seorang asing yang buta macam China itu berani bermukim.  Tidak tertutup kemungkinan, China itu mewakili satu komunitas kecil pedagang yang menetap.  Kami berani memastikan disini bahwa diantara barang yang mereka perdagangkan, keramik pastilah terdapat.</p>
<p>*****</p>
<p>Tentu saja tidak semua keramik antik di Talaud datangnya dari tangan pedagang China.  Pedagang lokal juga berperan.  Khusus untuk kawasan timur Indonesia, peran pedagang lokal sebenarnya jauh lebih besar daripada pedagang China.  Pedagang China dalam hal ini boleh dikata hanya aktif sampai di sekitar Kepulauan Sulu.  Selebihnya pedagang lokal lah yang berperan.  Dengan begitu, terlepas dari fluktuasi kunjungan sebagaimana yang digambarkan di atas, secara keseluruhan kita tidak bisa terlalu berharap bahwa Talaud pernah sangat ramai dikunjungi oleh pedagang China.</p>
<p>Sekarang, terlepas dari pedagang China atau bukan yang membawa keramik, jumlah peninggalan keramik di Talaud cukup banyak.  Jumlah keramik pada satu sisi bisa mencerminkan daya beli yang tinggi.  Bukankah keramik barang mewah?  Tapi apakah hanya karena syarat religi semata, misalnya untuk syarat penguburan, yang bisa mendorong orang Talaud membeli keramik?  Atau ada hal lain yang belum kita ketahui; misalnya prestise atau mas kawin?  Kami tidak tahu.  Yang pasti, adanya keramik China menjadi petunjuk jelas tentang kemandirian Talaud dalam mengembangkan perdagangan lokalnya di tengah-tengah perdagangan internasional waktu itu.  Keramik-keramik ini lah yang seharusnya memperkokoh obyektifitas sejarah Talaud, bukan bayang-bayang romantis dari hegemoni Majapahit yang terlalu jauh itu.</p>
<p>Sewaktu kami tinggal di Talaud, kami menyaksikan banyak situs bersejarah yang terlantar.  Kami juga mendengar tentang sebuah situs penuh keramik (dekat Lobbo?) yang hancur tergilas buldozer waktu pembangunan jalan.  Kami khawatir, jangan-jangan ”tragedi” di Sulawesi Selatan – ketika sejumlah gua kapur yang berisi lukisan dinding berusia ribuan tahun sengaja dihancurkan oleh sebuah perusahan tambang untuk menghindarkan Pemerintah menetapkan gua-gua itu sebagai cagar budaya – akan berulang di Talaud.  Disini kami menghimbau Pemerintah Kabupaten Talaud agar segera mengambil tindakan melindungi situs-situs bersejarah itu, termasuk menjaga benda-benda berharga itu dari upaya penyelundupan ke luar Talaud.  Perlu juga diingatkan bahwa perlindungan tidak harus dengan cara memugar apalagi memindahkan barang-barang bersejarah itu ke lemari pajangan.  Benda-benda itu harus tetap disitu sampai ada ada ahli yang meneliti dan memberi rekomendasi pemindahan.  Dalam hal ini, ahli-ahli arkeologi mutlak perlu terlibat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=21&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/02/18/piring-antik-di-talaud-pedagang-china-di-quanzhou-adakah-hubungannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Aku, Dia, dan Bekas Gunung Api Itu (sebuah catatan perjalanan)</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/antara-aku-dia-dan-bekas-gunung-api-itu-sebuah-catatan-perjalanan/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/antara-aku-dia-dan-bekas-gunung-api-itu-sebuah-catatan-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 08:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Yang kita lia, yang kita rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Nama Empung memang tidak sepopuler Lokon atau Mahawu. Banyak orang tak mengenalnya. Padahal dia punya kawah dan juga bekas-bekas lahar di beberapa tempat. Ini menunjukkan keaktifannya di masa lalu walaupun kita tidak tahu kapan. Tapi terlepas dari apakah sekarang dia sudah mati atau sedang beristirahat, Empung sebenarnya memiliki kelebihan yang lain, dan ini justru karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=15&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nama Empung memang tidak sepopuler Lokon atau Mahawu.<span> </span> Banyak orang tak mengenalnya.<span> </span> Padahal dia punya kawah dan juga bekas-bekas lahar di beberapa tempat.<span> </span> Ini menunjukkan keaktifannya di masa lalu walaupun kita tidak tahu kapan.<span> </span> Tapi terlepas dari apakah sekarang dia sudah mati atau sedang beristirahat, Empung sebenarnya memiliki kelebihan yang lain, dan ini justru karena aktifitasnya yang sedang tidak ada.<span> </span> Di lereng-lereng dekat puncaknya masih bertahan sisa hutan pegunungan rendah yang relatif utuh yang sekarang mulai langka untuk daerah Minahasa.<span> </span> Dan di antara tetumbuhan yang hidup di hutan ini, terdapatlah rotan.<span id="more-15"></span></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rotan adalah sebutan kolektif untuk jenis tumbuhan pemanjat yang berkerabat dengan kelapa, salak dan sagu (semuanya dari famili Palmae).<span> </span> Rotan memiliki daun majemuk yang ujungnya memanjang hingga mirip cambuk yang mengerikan karena dipenuhi oleh duri-duri keras yang menghadap ke dalam.<span> </span> Duri-duri ini yang membuat rotan bisa “memanjat” pohon, dan untuk beberapa jenis panjangnya bisa mencapai seratusan meter.<span> </span> Sedemikian kuatnya kaitan cambuk-cambuk ini, sampai-sampai apabila sebuah pohon ditebang, rotan yang melilitinya dapat menarik pohon-pohon lain untuk ikut tumbang.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tapi di balik ketajaman durinya, batang rotan juga memiliki serat yang kuat dan awet.<span> </span> Itulah sebabnya mengapa rotan banyak dimanfaatkan, sebagaimana yang dilakukan oleh Blasius Polakitan, perajin anyaman asal Desa Kinilow yang terletak di kaki Gunung Empung.<span> </span> Lelaki paruh baya yang akrab dipanggil Om Atik ini menjadikan rotan sebagai bagian dari hidupnya.<span> </span> Sudah puluhan tahun dia menekuni seni anyaman untuk menopang ekonomi keluarganya dan rotan adalah bahan baku utama.<span> </span> Jangan heran, untuk memenuhi kebutuhan, dia harus masuk keluar hutan gunung Empung, satu-satunya hutan di dekat Kinilow yang masih memiliki cadangan rotan.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tim Lestari mungkin tak salah ketika memilihnya sebagai figur pengumpul rotan yang akan dibuatkan dokumentasi filmnya.<span> </span> Dan saya, mungkin tak salah ketika mengikuti ajakan Kale untuk bergabung dengan tim ini.<span> </span> Saya ingin melihat dari dekat sisa-sisa hutan pegunungan rendah Minahasa yang sedang menuju kepunahan.<span> </span> Tapi justru disini lah letak kontradiksinya.<span> </span> Di satu sisi, saya menyadari nilai obyek yang akan saya kunjungi.<span> </span> Di sisi yang lain, saya juga menyadari bahwa yang bakal saya saksikan adalah eksploitasi terhadap salah satu komponen keanekaragaman hayatinya.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">***</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Om Atik bergabung dengan kami pada menit-menit terakhir menjelang pendakian.<span> </span> Kami hanya berkenalan singkat; saling berpandangan, saling melontarkan senyum, dan saya terkesan.<span> </span> Dia adalah pria yang ramah dengan sikap merendah.<span> </span> Tapi dibalik keramahannya, ada pancaran optimis yang luar biasa dari setiap geraknya.<span> </span> Bersama-sama dengan dia, ada pula sejumlah pemuda yang juga akan bergabung dengan tim kami.<span> </span> Mereka rata-sata berbadan kekar dan mengesankan figur-figur penjelajah hutan yang handal.<span> </span> Sayangnya tiga di antaranya menyandang senapan angin kaliber 4.5 mm.<span> </span> Ini berarti mereka bakal tak sekedar mencari rotan, tapi juga berburu.<span> </span> Ini membangkitkan getar-getar gundah di hati saya; apalagi yang akan diambil dari sisa hutan Minahasa ini setelah rotan?</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hari itu, Sabtu 6 September 2008.<span> </span> Hari sudah agak siang ketika kami meninggalkan Desa Kinilow dan mulai mendaki lereng timur Empung.<span> </span> Mula-mula kami berjalan lurus ke arah puncak dengan melewati jalan setapak di antara kebun dan lahan-lahan yang terbiar.<span> </span> Ini cukup melelahkan karena jalan relatif menanjak.<span> </span> Sesudah itu, di suatu tempat yang nampaknya di batas kebun terakhir, kami membelok ke kanan dan mulai memotong lereng dengan mengikuti konturnya.<span> </span> Kami kini memasuki hutan.<span> </span> Jalan memang tidak banyak menanjak tapi tenaga yang sudah terkuras sebelumnya membuat ruas ini terasa berat.<span> </span> Apalagi, disana-sini ada liana dan tumbuhan merambat lainnya yang merintangi jalan.<span> </span> Kira-kira setengah jam kemudian, kami berhenti di suatu tempat yang ada pondoknya.<span> </span> Pondok itu sudah lama ditinggal tapi kondisinya masih cukup baik.<span> </span> Om Atik memutuskan bahwa kami akan bermalam disitu.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saya tak membawa peralatan navigasi apapun, tapi saya menduga lokasi itu berada di ketinggian hampir 1000 meter di atas muka laut.<span> </span> Dan karena Tinoor serta sebagian daerah Airmadidi terlihat di depan kami, lokasi itu saya pikir menghadap ke arah timur-laut.<span> </span> Sayang, lokasi itu bukan tempat yang memuaskan.<span> </span> Tempat itu miring, sekelilingnya curam, sementara rerimbunan pohon menutupi pemandangan.<span> </span> Tenda <em>dome</em> milik Sandra tak bisa dibuka.<span> </span> Selain itu, tanahnya juga agak berbatu dan di sana-sini ada tonjolan akar yang sangat mengganggu.<span> </span> Ini sangat terasa ketika tidur malam; Mei terus-menerus mengeluh, sementara Kale terus-menerus bergerak mengubah posisi.<span> </span> Saya yang tidur di samping Kale berkali-kali harus terjaga oleh tendangannya.<span> </span> Merombak pondok dan menggantinya dengan shelter yang beratap terpal plastik juga tak membantu.<span> </span> Mas Kabut yang memilih tidur di sisi yang menghadap puncak malah harus kedinginan diterpa aliran angin dari puncak gunung.<span> </span> Ini memaksa dia melakukan sesuatu yang pantang; mengubah tenda <em>doom</em> menjadi <em>windbreaker</em> .</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sementara itu, air juga tak ada.<span> </span> Disitu tak ada sungai, tak ada mata air.<span> </span> Om Atik dkk. terpaksa harus menebang berbatang-batang bambu liar agar air yang terjebak di dalam ruas-ruasnya bisa dimanfaatkan.<span> </span> Ini untuk menghemat cadangan air botolan yang dibawa dari Kinilow.<span> </span> Tapi walaupun begitu, hati tetap saja was-was juga.<span> </span> Tisu toilet tak ada sepotong pun yang dibawa.<span> </span> Bagaimana kalau sampai rasa buang hajat muncul tiba-tiba.<span> </span> Apakah raus menggunakan daun?<span> </span> Tapi <em>the show must go on</em> .<span> </span> Malam harus dinikmati, karena malam besok tak seperti ini lagi.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">***</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Malam hari adalah saat dimana aktifitas Om Atik dkk. meningkat.<span> </span> Itu adalah malam perburuan dan gelap bukan penghalang bagi dia dan kelompoknya.<span> </span> Sementara Tim Lestari tidur-tiduran dan ngobrol, dia dan anak buahnya sibuk beraksi.<span> </span> Bambu-bambu panjang, yang ujung-ujungnya diberi jaring, mereka dirikan di tempat-tempat dimana kelelawar diperkirakan lewat.<span> </span> Bilah-bilah bambu kecil yang sudah disiapkan sebelumnya, mereka gesek-gesekkan ke tajaman parang sehingga menimbulkan bunyi yang berdecit-decit.<span> </span> Sementara mulut juga tak pernah diam menirukan bunyi tikus atau kelelawar.<span> </span> Malam gunung yang sepi pun berubah menjadi keramaian dengan suara-suara aneh datang dari berbagai sudut gelap.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sementara itu, senter dan senapan angin juga tak diam.<span> </span> Setiap saat, ada kelebatan cahaya yang mengiris kegelapan.<span> </span> Setiap saat, ada bunyi letusan yang memecah malam.<span> </span> Setiap itu pula saya harus membayangkan ada satu nyawa yang melayang; nyawa seekor binatang yang tengah mencari makan, nyawa seekor binatang yang ceroboh.<span> </span> Entah tikus, entah kelelawar, entah binatang apa.<span> </span> Yang pasti, area dalam radius seratus meter dari shelter itu kini berubah menjadi sebuah <em>killing field</em> .</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tapi Om Atik dkk. tak peduli.<span> </span> Dan memang, siapa yang harus peduli?<span> </span> Sesekali, mereka muncul di dekat kami.<span> </span> Ada yang membawa hasil buruan, ada yang mengambil makanan dan makan sambil berdiang sebenatr dekat unggun, ada yang sekedar meneguk captikus lalu menghilang lagi.<span> </span> Shelter menjadi tempat <em>rendesvouz</em> , tempat mereka berbagi informasi, tempat mereka mengatur strategi.<span> </span> Strategi untuk membantai.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tapi malam semakin larut.<span> </span> Di suatu saat menjelang subuh, ketika saya terbangun oleh sebuah sentakan kuat dari Kale, saya mendapati segalanya sudah berakhir.<span> </span> Tak ada suara, tak ada kelebatan cahaya senter.<span> </span> Para pemburu itu sudah tidur, sebagian bergelimpangan di dekat unggun, di bawah kaki saya.<span> </span> Tapi Om Atik tak ada disitu.<span> </span> Saya bertanya-tanya, kemana gerangan dia?<span> </span> Rupanya dia tidur di tempat lain, mungkin di sebuah shelter yang dibangun tidak jauh dari shelter kami.<span> </span> Pikiran pun menerawang, ke Om Atik, ke pemuda-pemuda kekar itu, ke bangkai-bangkai tikus dan kelelawar yang digantung di dekat unggun. <span> </span> Tuntutan hidup atau sekedar pemuasan keinginan kah?</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">***</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Subuh merekah dan saya terbangun.<span> </span> Saya mendapati tubuh yang lumayan segar.<span> </span> Rupanya Kale benar, saya sempat tidur pulas katanya.<span> </span> Jadi sekalipun singkat, hasilnya lumayan.<span> </span> Saya bisa menikmati pagi yang bersemangat.<span> </span> Makanya ketika selesai sarapan dan saya diajak untuk melihat gua, saya tak menolak.<span> </span> Saya langsung bergabung dengan Tim Om Atik dan mulai menuruni bukit.<span> </span> Di belakang saya, di bawah shelter, Bang Yus, Mas Kab, dan Mei duduk seperti manekin-manekin putih yang dibungkus kain tebal.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ternyata gua yang dimaksud Om Atik itu letaknya dekat sekali, mungkin hanya 30 meter dari shelter kami.<span> </span> Saya sampai ketawa dalam hati karena sebelumnya membayangkan harus mandi keringat untuk mencapainya.<span> </span> Hanya saja, walaupun dekat gua itu lumayan sulit dicapai.<span> </span> Selain harus merintis jalan, gua itu ternyata terletak di lereng yang lumayan curam.<span> </span> Dan ini merepotkan.<span> </span> Sudah sepatu kemasukan guguran tanah, tetumbuhan yang basah juga menimbulkan rasa merinding setiap kali tersentuh.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Gua itu sendiri terbentuk dari celah di antara bongkah-bongkah lahar yang membeku.<span> </span> Ada ceruk dangkal sebelum mulut lorongnya.<span> </span> Bibir ceruk ditutupi lumut dan di beberapa tempat di bibir atasnya ada air yang menetes.<span> </span> Tapi air itu nampaknya bukan dari hasil resapan tapi dari embun yang terjebak di lelumutan.<span> </span> Karena saya yang mendapat &#8220;kehormatan&#8221; untuk mendampingi Om Atik masuk, saya bisa melongok agak ke dalam.<span> </span> Ada sebuah celah sempit yang lebarnya hanya sebadan.<span> </span> Saya berusaha mengintip tapi karena tak membawa senter, saya tak tahu sedalam apa celah itu dan ada apa di dalamnya.<span> </span> Saya cuma bisa berspekulasi bahwa gua itu pasti tak dalam.<span> </span> Hanya gua-gua yang terbentuk di daerah berkapur yang dapat mencapai panjang yang mengesankan.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Om Atik bilang bahwa sebelumnya gua itu dihuni oleh banyak sekali kelelawar.<span> </span> Ada orang yang pernah “memanen”nya.<span> </span> Jika itu benar, ada kemungkinan di balik celah ada ruang yang cukup besar untuk kelelawar-kelelawar itu.<span> </span> Sayangnya, tanda-tanda untuk itu tak ada; bahkan baunya pun sama sekali tak tercium.<span> </span> Kalau sampai Om Atik tak menceritakan tentang kelelawar itu, pasti saya tak mau berlama-lama disitu.<span> </span> Kelelawar biasanya absen dari gua-gua yang dihuni oleh pemangsa seperti ular.<span> </span> Selain itu, karena letaknya yang tidak jauh dari gunung api aktif Lokon, ada juga rasa ngeri jangan-jangan gempa muncul tiba-tiba dan atap gua runtuh menimbun kami.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ketiadaan seekor kelelawar di gua itu menjadi contoh bagaimana dampak perburuan.<span> </span> Penangkapan kelelawar sebagaimana yang diceritakan oleh Om Atik, nampaknya dilakukan secara berulang-ulang setelah perburuan pertama yang sukses.<span> </span> Akibatnya, kalau bukan kelelawarnya habis, kelelawar yang selamat mungkin telah pindah tempat dan ini amat bergantung pada apakah di sekitar situ masih ada gua lain yang mirip.<span> </span> Kelelawar penghuni zona gelap gua rata-rata buta.<span> </span> Matanya hanya sebesar kepala peniti dan untuk terbang mereka mengandalkan apa yang disebut <em>echolocation</em> ; memancarkan suara-suara berfrekuensi tinggi dan menduga bentuk ruang yang dilaluinya berdasarkan pantulan suara itu.<span> </span> Jenis seperti ini tak mungkin pindah ke pohon.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">***</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kembali dari gua, kami langsung membongkar shelter.<span> </span> Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika kami meninggalkan tempat itu.<span> </span> Mula-mula kami mengikuti jalan yang kemarin lalu di suatu tempat kira-kira setengah kilometer dari shelter kami berhenti.<span> </span> Disitu pengambilan rotan akan diperagakan.<span> </span> Om Atik meletakkan ranselnya lalu menghunus parang.<span> </span> Dia terlihat gagah.<span> </span> Sebatang rotan berdiameter 3 senti (mungkin dari marga <em>Calamus</em> ) dipotong pada pangkalnya.<span> </span> Setelah itu dia mulai menarik ujung bawahnya sambil pelapah-pelepah yang berduri dirontokkan dengan bagian parang yang tumpul agar bisa dipegang.<span> </span> Meter demi meter batang rotan pun terlepas dari sangkutannya.<span> </span> Ini membuat daerah itu seperti diterpa angin ribut dan sejumlah serangga yang terganggu beterbangan.<span> </span> Pekerjaan itu sangat menguras tenaga.<span> </span> Cambuk-cambuk rotan sering sulit terlepas dan tak jarang Om Atik serta salah seorang pemuda yang membantunya harus menggunakan berat tubuh mereka agar bisa menarik rotan lepas dari sangkutannya.<span> </span> Keringat Om Atik bercucuran, napasnya terdengar ngos-ngosan.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Di daerah Pinogu, Gorontalo, para pengumpul rotan seperti Om Atik sering harus memanjat pohon untuk memotong cambuk-cambuk yang sulit dilepas.<span> </span> Ada <em>steling-steling</em> yang khusus dibuat untuk itu.<span> </span> Tapi mungkin karena hutan disini tak serapat hutan dataran rendah Pinogu, Om Atik tidak harus memanjat pohon.<span> </span> Sebagai gantinya, berbagai teknik diterapkannya, mulai dari menarik, mengulur, hingga mengubah-ubah arah tarikan.<span> </span> Setelah kira-kira dua puluh menit, kerja Om Atik pun berakhir.<span> </span> Rotan sepanjang kira-kira 15 meter yang diameternya sama, berhasil ditanahkan.<span> </span> Setelah dibersihkan dan diukur dengan depa, rotan itu lalu dipenggal-penggal.<span> </span> Panjangnya disesuaikan dengan yang dibutuhkan oleh rata-rata perajin di Kinilow.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Om Atik menyeka keringat.<span> </span> Sebatang rokok dia nyalakan dan senyumnya mengambang.<span> </span> Senyum kemenangan.<span> </span> Mula-mula saya kira segalanya sudah selesai.<span> </span> Ternyata tidak.<span> </span> Beberapa menit kemudian, saya mendengar suara letusan senapan beberapa kali.<span> </span> Menyusul bunyi itu, terdengar bunyi semak-semak diterobos diikuti dengan suara-suara guman puas.<span> </span> Tembakan itu rupanya berhasil.<span> </span> Salah seorang pemuda keluar dari balik semak-semak sambil menenteng hasil tembakannya.<span> </span> Tapi ini membuat saya terkejut.<span> </span> Itu adalah sepasang Walik Kembang (<em>Ptilinopus melanospila</em> ), dan itu bukan buruan yang besar.<span> </span> Walik Kembang adalah jenis merpati paling kecil di antara merpati-merpati penghuni hutan Minahasa.<span> </span> Tinju saya masih jauh lebih besar ukurannya, dan kalau toh sepasang burung itu disatukan, dagingnya tak sebanyak sepotong paha ayam potong.<span> </span> Tapi burung itu memiliki bulu yang sangat indah – mungkin yang paling indah di antara merpati-merpati hutan Minahasa.<span> </span> Kini mereka mati, kepalanya terkulai, lehernya penuh lepotan darah.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Karena rencana ke puncak dibatalkan, shelter pun didirikan.<span> </span> Lokasinya di pertemuan dengan jalan yang ke puncak.<span> </span> Suasana kini berubah. <span> </span> Hiruk pikuk pesta tiba-tiba saja melanda tempat yang sebelumnya sunyi itu.<span> </span> Kali ini Om Atik dkk. sedang memeragakan sebuah ketrampilan “tataboga” ala Empung, dan semuanya berlangsung cepat.<span> </span> Hanya dalam hitungan menit, berbagai alat dapur sudah disiapkan.<span> </span> Mulai dari penumbuk lombok, wadah pencuci bahan makanan, hingga ruas-ruas bambu untuk memasak.<span> </span> Hanya dalam beberapa menit, semua yang akan dimasak sudah disiapkan; mulai dari beras, potongan-potongan binatang buruan, rempah-rempah, hingga lembar-lembar daun <em>koles</em> , sejenis herba yang biasanya tumbuh di tempat-tempat yang lembab, yang oleh orang Minahasa dijadikan sayur.<span> </span> Sementara perapian disiapkan dan api mulai menyala, berbatang-batang bambu juga ditebang untuk diambil airnya.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saat menyiapkan makan siang itulah saya mengambil kesempatan untuk mengamati hasil buruan.<span> </span> Tak banyak, hanya beberapa ekor tikus serta sejumlah paniki kecil, kebanyakan mereka berasal dari jenis yang umum.<span> </span> Tapi ada satu yang menarik perhatian, yakni seekor paniki yang wajahnya bercoret-coret putih menyolok.<span> </span> Saya pernah mengikuti beberapa survei paniki di bagian selatan Minahasa, tapi jenis yang seperti ini belum pernah saya lihat.<span> </span> Sepintas lalu saya menduga bahwa dia dari kelompok pemakan buah, Pteropodidae, tapi apa jenisnya saya tidak tahu.<span> </span> Saya ingin membuat catatan tapi sial, tak satupun alat tulis yang kubawa.<span> </span> Maka saya pun memotretnya.<span> </span> Belakangan setelah tiba di rumah dan membuka-buka sejumlah buku baru lah saya tahu.<span> </span> Itu adalah kelelawar endemik Sulawesi.<span> </span> Nama ilmiahnya <em>Styloctenium wallacei</em> .</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saya ingin bertanya pada Om Atik tentang kelelawar ini tapi saya tak punya kesempatan.<span> </span> Om Atik jarang berada dekat saya.<span> </span> Ada kesan dia segan walaupun sikapnya tetap ramah.<span> </span> Saya lalu teringat, ini pasti akibat ulah Kale.<span> </span> Sebelumnya Kale telah memperkenalkan saya kepada Om Atik dkk., bahwa saya adalah seorang “ahli burung” yang tak suka melihat burung ditembak.<span> </span> Bualan ini rupanya berpengaruh.<span> </span> Tapi baik Kale maupun Om Atik keliru.<span> </span> Sesungguhnya saya tak pernah membenci pemburu-pemburu tradisional.<span> </span> Saya memang pernah pernah bekerja di lembaga-lembaga yang membenci perburuan.<span> </span> Tapi saya juga pernah melewatkan banyak malam di dalam pondok-pondok pemburu di Sulawesi, Maluku dan Papua.<span> </span> Saya pernah melihat bagaimana seekor cenderawasih kuning dilumpuhkan di Pegunungan Arfak, atau seekor rusa ditombak di pantai Jamursba Medi.<span> </span> Tapi saya tak pernah membenci pemburunya.<span> </span> Bagis aya, ini adalah bagian dari proses dimana manusia sedang menjadi species paling berhasil di bumi, yang kehadirannya ditakdirkan untuk melenyapkan bentuk-bentuk kehidupan yang lain.<span> </span> Tak ada yang bisa menghentikan; tak Herman Teguh, tak juga Yayasan Lestari.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Saya meninggalkan Om Atik di sebuah persimpangan di Desa Kinilow.<span> </span> Seperti waktu pertama bertemu, saya hanya menjabat tangannya lalu melontarkan senyum.<span> </span> Dia pun begitu.<span> </span> Tanpa basa-basi, tanpa bicara.<span> </span> Tapi kesan yang dia bangkitkan tetap dalam.<span> </span> Sosoknya terbawa terus di sepanjang perjalanan pulang.<span> </span> Langkah-langkahnya, kegesitannya, ayunan parangnya, semuanya menyatu di benakku.<span> </span> Om Atik tentu mewariskan keterampilannya kepada anak cucunya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=15&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/antara-aku-dia-dan-bekas-gunung-api-itu-sebuah-catatan-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemanasan Global Dalam Perspektif Sejarah</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/12/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/12/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 05:45:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kita pe tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/12/</guid>
		<description><![CDATA[Global warming atau pemanasan global adalah istilah yang dipakai untuk gejala meningkatnya suhu rata-rata di dekat permukaan bumi dan lautan serta kemungkinan kelanjutannya di masa mendatang. Bersama-sama dengan “global cooling” atau pendinginan global, istilah ini merupakan bagian dari apa yang disebut “climate change” atau perubahan iklim, suatu perubahan pada kondisi atmosfir yang sebab-musababnya masih belum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=12&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span lang="EN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Global warming atau pemanasan global adalah istilah yang dipakai untuk gejala meningkatnya suhu rata-rata di dekat permukaan bumi dan lautan serta kemungkinan kelanjutannya di masa mendatang.<span> </span> Bersama-sama dengan “global cooling” atau pendinginan global, istilah ini merupakan bagian dari apa yang disebut “climate change” atau perubahan iklim, suatu perubahan pada kondisi atmosfir yang sebab-musababnya masih belum sepenuhnya dipahami.<span> </span> Data-data tentang kondisi atmosfir dalam lima puluh tahun terakhir memang menunjuk manusia sebagai penyebabnya.<span> </span> Tapi rekaman geologi juga menunjukkan bahwa bumi pernah mengalami perubahan iklim yang berkali-kali sebelum ada manusia.<span> </span> Jadi, manusia nampaknya tidak sepenuhnya bersalah.<span id="more-12"></span></span> </span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span lang="EN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Jaman dimana suhu (permukaan) bumi lebih rendah sehingga sebagian air terjebak menjadi es disebut jaman glasial atau jaman es.<span> </span> Sebaliknya jaman di antara dua jaman es, ketika suhu bumi lebih tinggi, disebut jaman interglasial.<span> </span> Sejak terbentuknya, bumi konon telah mengalami empat kali jaman es besar (mayor) dan berkali-kali jaman es kecil (minor).<span> </span> Jaman es yang paling akhir terjadi antara 40.000 dan 10.000 tahun, dan tergolong sebagai jaman es minor.<span> </span> Karena jaman es ini memiliki siklus 100.000 tahun, maka jaman es berikutnya diduga akan terjadi sekitar 60.000 tahun lagi, dan kita sekarang sedang berada di antara dua jaman es, atau jaman interglasial.</span> </span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="EN"><span> </span> Jaman es terakhir merupakan hal yang menarik karena terjadi pada saat manusia sudah ada di bumi.<span> </span> Di Indonesia, jaman ini berlangsung ketika orang-orang Australomelanesid dari Benua Asia sudah datang menghuni.<span> </span> Jaman ini dimulai dengan menurunnya suhu bumi, yang kemudian berfluktuasi di bawah suhu yang sekarang.<span> </span> Ini berlangsung selama beberapa ribu tahun.<span> </span> Sesudah itu suhu turun lagi</span> , lebih cepat dari sebelumnya, dan pada kira-kira 20.000 s/d 18.000 lalu, suhu mencapai titik terendahnya.<span> </span> Periode yang paling dingin ini disebut puncak jaman es.<span> </span> Jaman es terakhir ini secara keseluruhan baru berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu ketika suhu yang menaik mencapai keadaan yang seperti sekarang.</span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="EN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Di antara berbagai perubahan lingkungan yang terjadi selama jaman es, turunnya permukaan laut adalah hal yang paling dramatis.<span> </span> Di Indonesia, penurunan itu konon mencapai sekitar 150 meter di bawah muka laut sekarang.<span> </span> Akibatnya pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan terhubung dengan daratan Asia oleh dangkalan Sunda yang mengering, sedangkan Papua serta beberapa pulau sekelilingnya terhubung dengan Australia oleh dangkalan Sahul yang mengering.<span> </span> Selain turunnya permukaan laut, jaman es juga menyaksikan meluasnya tutupan es di beberapa gunung – termasuk munculnya salju di beberapa gunung yang sekarang tidak bersalju, bergesernya garis tumbuh pepohonan, serta iklim yang lebih kering.</span> </span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="EN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Dari kacamata sekarang, jaman es memberi kesan sebuah jaman yang sulit dan tidak mengenakkan.<span> </span> Tapi jangan lupa, rentang waktu keseluruhan jaman es adalah kira-kira 30.000 tahun dan yang mengalaminya adalah lebih dari seribu generasi manusia.<span> </span> Jaman es juga tidak muncul dan pergi dengan tiba-tiba.<span> </span> Dengan demikian, masing-masing generasi hanya akan merasakan satu segmen yang sangat pendek dari keseluruhan jaman es.<span> </span> Masing-masing generasi tidak akan merasa bahwa apa yang tengah mereka alami adalah bagian dari suatu perubahan yang menurut kacamata kita drastis.<span> </span> Jadi tidak ada yang tidak mengenakkan disini.<span> </span> Bagi orang Australomelanesid, jaman es malah adalah kesempatan untuk melebarkan sayap penyebarannya.<span> </span> Selama jaman ini mereka telah melintasi jembatan-jembatan darat yang sebelumnya tidak ada, atau berlayar di antara selat-selat yang sedang menyempit, untuk mencapai bagian-bagian tertentu dari Indonesia.</span> </span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="EN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Ketika jaman es berakhir dan suhu kembali naik, sebagian es kembali mencair, laut meninggi dan sebagian daratan kembali tenggelam.<span> </span> Buku-buku sejarah menyebut perubahan ini sebagai “membaiknya” iklim.<span> </span> Tapi ini juga sebuah kesalahan.<span> </span> Setelah 30.000 tahun bumi dalam kondisi dingin dan seluruh kehidupan beradaptasi dengan kondisi seperti itu, naiknya suhu bumi jelas bukan sesuatu yang membaik.<span> </span> Justru itu adalah sebuah ancaman terhadap tatanan kehidupan jaman es, sebuah pemanasan global, dan yang mengalaminya adalah manusia-manusia primitif yang masih menggunakan serpih-serpih batu untuk memotong daging binatang buruan.</span> </span> </span></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span lang="EN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lantas apakah dengan begitu manusia menjadi terancam?<span> </span> Sekali lagi tidak.<span> </span> Di beberapa tempat, iklim yang memanas justru mendorong manusia untuk beralih dari pola hidup berburu-mengumpul ke pola hidup bertani.<span> </span> Perubahan ini juga diikuti oleh bertambahnya kompleksitas sosial, dimana dengan begitu revolusi kebudayaan juga mendapatkan tempatnya.<span> </span> Di Timur Tengah muncul kota yang pertama, dengan parit-paritnya yang besar dan dengan tembok-temboknya yang mengelilingi.<span> </span> Di Mesopotamia, Mesir, sungai Indus dan China, muncul pusat-pusat peradaban yang mendifusikan berbagai inovasi baru ke seluruh penjuru dunia.<span> </span> Untuk pertama kalinya manusia mulai mencatat sejarahnya sendiri dengan lambang-lambang yang kita kenal sebagai cikal-bakal huruf.</span> </span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span lang="EN"><span> </span> Indonesia memang tidak mengalami hal itu karena orang-orang Australomelanesid ternyata tetap hidup di alam pemburu-pengumpul.<span> </span> Tapi Indonesia justru menerima dampak dari perubahan yang terjadi di tempat lain.<span> </span> Kira-kira 8000 tahun lalu, yakni 2000 tahun sesudah jaman es berakhir, </span> komunitas-komunitas manusia yang hidup di lembah sungai Kuning dan Yangtze di daratan China, mulai meninggalkan kehidupan berburu-mengumpul.<span> </span> Mereka beralih menjadi petani dengan menanam padi dan jamawut.<span> </span> Salah satu akibatnya yaitu meningkatnya populasi.<span> </span> Meningkatnya populasi segera diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan tempat hidup yang baru.<span> </span> Di dorong oleh faktor-faktor demografi ini, mereka pun berekspansi.<span> </span> Leluhur orang Mongolid Selatan ada di antaranya.<span> </span> Mula-mula mereka menuju daerah pesisir di sekitar Selat Taiwan, disitu mereka berkenalan dengan laut.<span> </span> Setelah kemampuan baharinya terbentuk, pada sekitar 6.000 tahun mereka menyeberang ke Taiwan dan mendudukinya.</span> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Tapi mereka tidak berhenti disitu.<span> </span> Dari Taiwan mereka menyebar ke Filipina.<span> </span> Setelah menyesuaikan diri dengan kondisi geografi kepulauan ini serta iklim tropisnya, pada 4000 atau 4500 tahun lalu mereka pun muncul di horizon utara wilayah Indonesia.<span> </span> Mereka menggunakan perahu-perahu berlayar tikar dan membawa kapak-kapak batu yang lebih halus buatannya.<span> </span> Mereka menyimpan benih-benih tanaman dalam guci tanah liat yang dibuat sendiri dan menggunakan sebuah bahasa yang kelak menjadi cikal-bakal dari hampir semua bahasa di Indonesia.<span> </span> Menyederhanakan kerumitan, mereka adalah adalah leluhur langsung dari kebanyakan penduduk Indonesia sekarang; orang-orang yang berkulit kuning langsat dan memiliki wajah lebar.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Terlepas dari apa yang terjadi pada orang-orang Australomelanesid yang lebih primitif, kedatangan orang-orang Mongolid Selatan ini jelas mengubah wajah Indonesia secara total.<span> </span> Indonesia memasuki jaman Neolitik.<span> </span> Perdagangan berangsur-angsur berkembang, merangkai pulau-pulau Indonesia, mengaitkan diri dengan jaringan perdagangan luar, menciptakan pusat-pusat ekonomi, sosial dan budaya di pesisir maupun di pedalaman, dan membawa Indonesia memasuki jaman sejarah.<span> </span> Ketika pusat-pusat ini berkembang, kita lalu mengenal adanya kerajaan-kerajaan masyhur seperti Sriwijaya dan Majapahit.<span> </span> Sekali lagi, semua itu dimotori oleh orang-orang Mongolid Selatan yang berbahasa Austronesia dan yang telah keluar dari tanah asalnya di sebelah utara karena memanasnya suhu bumi pada akhir jaman es.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Baru-baru ini sebuah teori lain tentang asal-usul peradaban muncul.<span> </span> Teori ini dicetuskan oleh seorang dokter dan ahli genetika yang juga mendalami sejarah, Stephen Oppenheimer, dalam bukunya yang berjudul “<em>Eden</em> <em>in the East, the Drowned Continent of Southeast Asia</em> ” (terbit tahun 1999).<span> </span> Dengan mengaitkan fakta-fakta genetika, hasil rekonstruksi bahasa, serta cerita-cerita dongeng dari banyak tempat, sang dokter menyimpulkan bahwa bukan tempat lain tapi Asia Tenggaralah sumber dari peradaban manusia.<span> </span> Menurut dia, munculnya kebudayaan di Mesopotamia, lembah sungai Indus dan di sungai-sungai besar China dipicu oleh kadatangan para imigran dari Asia Tenggara ini.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Cerita Oppenheimer dimulai pada jaman es, ketika dangkalan Sunda masih berupa daratan luas dan dihuni oleh populasi-populasi manusia prasejarah yang padat dan berprofesi sebagai petani dan nelayan.<span> </span> Ketika jaman es berakhir dan pemanasan global mencairkan es di kutub-kutub, kawasan ini “kebanjiran”.<span> </span> Data geologi dan oseanografi yang dikutip Oppenheimer mencatat sekurang-kurangnya ada tiga banjir besar yang melanda sejak kira-kira 14.000 tahun lalu.<span> </span> Banjir terakhir terjadi 8.000 tahun lalu dan ini adalah yang paling besar karena sempat menaikkan tinggi muka laut hingga 5-10 meter di atas permukaan yang sekarang.<span> </span> Akibatnya, penduduk dangkalan Sunda cerai-berai.<span> </span> Ke barat mereka menuju India hingga Mesopotamia, ke Timur mereka menuju Pasifik, dan ke utara mereka menuju China, Jepang, lalu Amerika melalui Selat Bering.<span> </span> Di semua tempat itu, mereka membawa kenangan tentang banjir yang mereka alami.<span> </span> Kata Oppenheimer, cerita banjir Nuh dalam Alkitab dan cerita tentang “benua Atlantis yang hilang” tak lain adalah rekaman budaya dari bencana dangkalan Sunda itu.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span> Tentu saja teori ini bertentangan dengan apa yang diyakini sekarang.<span> </span> Oppenheimer juga disebut-sebut menggunakan banyak data yang tidak sahih.<span> </span> Dengan begitu buku <em>Eden in the East</em> harus diperlakukan hati-hati.<span> </span> Kata seorang pakar, buku ini lebih layak dijadikan “food of thought” daripada sebuah refrensi ilmiah.<span> </span> Namun demikian, pesan Oppenheimer disini jelas; perubahan iklim bertanggung jawab atas lahirnya pusat-pusat kebudayaan dunia.<span> </span> Ini sejalan dengan teori “Out of Taiwan” yang diyakini sekarang.<span> </span> Lantas, mengapa kita harus melihat perubahan iklim sebagai momok yang menakutkan?</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Memang, antara pemanasan global yang terjadi 10.000 tahun lalu dengan yang terjadi sekarang ada perbedaan yang mendasar.<span> </span> Pemanasan global 10.000 tahun lalu itu bermula pada jaman es dan berlangsung dengan laju kenaikan suhu yang relatif lambat, sementara pemanasan global yang terjadi sekarang, terjadi pada jaman interglasial dan berlangsung dengan laju kenaikan suhu yang relatif cepat.<span> </span> Namun jika kita menempatkan kedua pemanasan itu dalam konteks kebudayaan manusia, kita juga akan melihat kesetaraan.<span> </span> Pemanasan global 10.000 tahun lalu itu, yang berlangsung relatif lamban, berlangsung di tengah-tengah manusia primitif yang juga lamban.<span> </span> Waktu itu, manusia butuh waktu ribuan tahun untuk bereaksi, yakni melahirkan pertanian.<span> </span> Sementara, pemanasan global yang sekarang ini, berlangsung di tengah-tengah kebudayaan manusia yang sedang mencapai puncaknya.<span> </span> Karenanya, sekalipun laju kenaikan suhu bumi cukup tinggi dan menimbulkan kecemasan, teknologi serta berbagai piranti kebudayaan sekarang pasti dapat mengimbanginya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=12&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/02/09/12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Beronak Sebelum Riedel dan Schwarz</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2009/01/27/6/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2009/01/27/6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 09:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kita pe tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herteg.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah penginjilan di Sulawesi Utara termasuk yang tertua di Indonesia. Hanya dua puluh enam tahun sesudah Portugis menemukan Maluku, sejarah itu sudah dimulai. Adalah kapten Portugis bernama Antonio Galvao yang merintisnya, dan itu terjadi di suatu tempat di pesisir Sulawesi Utara pada tahun 1538. Sayangnya, siapa penginjil yang terlibat dan dimana persisnya kejadian itu berlangsung, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=6&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sejarah penginjilan di Sulawesi Utara termasuk yang tertua di Indonesia.<span> </span>Hanya dua puluh enam tahun sesudah Portugis menemukan Maluku, sejarah itu sudah dimulai.<span> </span>Adalah kapten Portugis bernama Antonio Galvao yang merintisnya, dan itu terjadi di suatu tempat di pesisir Sulawesi Utara pada tahun 1538.<span id="more-6"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sayangnya, siapa penginjil yang terlibat dan dimana persisnya kejadian itu berlangsung, kita tidak tahu.<span> </span>Sumber-sumber yang ada – termasuk sebuah risalah yang ditulis oleh Kapten Galvao sendiri – tidak memerincinya.<span> </span>Namun demikian apa yang telah diupayakan tentu tak bisa diabaikan.<span> </span>Sang Kapten telah membuka jalan bagi munculnya pembaptisan di pulau Manado Tua dua puluh lima tahun kemudian.<span> </span>Pembaptisan ini tercatat dalam sumber-sumber resmi Gereja Katolik, dan dipakai sebagai tonggak awal masuknya agama Kristen di Minahasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Manado Tua memang berhak untuk menjadi yang pertama.<span> </span>Cerita-cerita lisan dari Sangihe, Siau, dan Bolaang-Mongondow memberi indikasi bahwa pulau kecil di sebelah barat Bunaken ini pernah menjadi pusat dari suatu jaringan perdagangan lokal Sulawesi Utara.<span> </span>Dengan kondisi seperti itu, namanya tentu sudah dikenal di Ternate jauh sebelum kedatangan bangsa barat.<span> </span>Ketika orang Portugis muncul pada tahun 1512, nama ini tentu masuk di antara nama-nama tempat yang mereka dengar dari penduduk lokal Ternate.<span> </span>Faktanya, tak lama sesudah itu, kapal-kapal Portugis sudah singgah di Manado Tua.<span> </span>Ini menjelaskan mengapa nama “manado” sudah tertera di sebuah peta dunia sedini tahun 1541 (penambahan kata “tua” di belakangnya baru terjadi pada masa Belanda).<span> </span>Ketika kemudian Islam Ternate dan Kristen Portugis terlibat dalam persaingan meluaskan pengaruh, Manado Tua memetik kehormatan untuk menjadi yang pertama dikunjungi oleh seorang pekabar Injil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Waktu itu, ketika mengetahui bahwa Sultan Ternate, Hairun, sedang menyiapkan armada untuk menaklukkan Sulawesi Utara, penguasa Portugis di Ternate – Henrique de Sa, langsung mendahului.<span> </span>Sebuah armada kecil dengan tujuan akhir Tolitoli dia kirim dalam bulan Mei 1563.<span> </span>Di antara penumpang yang ikut dengan armada itu terdapatlah seorang imam Katolik bernama Diogo de Magelhães.<span> </span>Tugasnya adalah mengabarkan Injil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Manado Tua menjadi tempat persinggahan pertama dari armada itu.<span> </span>Begitu tiba, Magelhães tak membuang-buang waktu.<span> </span>Setelah mengajar selama 14 hari, imam dari Tarekat Yesuit ini langsung membaptis raja dan 1500 penduduknya.<span> </span>Karena kebetulan raja dari Pulau Siau juga sedang berada disitu, raja ini pun ikut dibaptis.<span> </span>Pembaptisan Raja Siau ini (namanya Pasumah dalam tradisi lisan) menjadi momentum awal masuknya Katolik di Kepulauan Sangihe.<span> </span>Kepulauan ini kemudian menjadi pangkalan misi Katolik.<span> </span>Ketika Belanda merebut Maluku, peran imam-imam Portugis dari Ternate digantikan oleh imam-imam Spanyol dari kepulauan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Karya Magelhães punya arti penting.<span> </span>Lewat karya ini, Manado Tua tercatat sebagai ladang garapan oleh misi yang berpangkalan di Ternate.<span> </span>Tak kurang, rasul Asia Fransiscus Xaverius sendiri ikut memberi perhatian.<span> </span>Tapi meskipun begitu, pelayanan tetap tak berlangsung teratur.<span> </span>Tantangan yang dihadapi misi sangat berat.<span> </span>Dalam konteks waktu itu, Manado Tua terletak di “batas terluar” dari pengetahuan geografi orang Portugis akan Kepulauan Maluku.<span> </span>Bahkan bentuk pulau Sulawesi sendiri pun masih belum terbayang oleh mereka; mereka menyangka Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan terletak di dua pulau berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pada sisi yang lain, kendala di bidang transportasi juga sangat berat.<span> </span>Kapal-kapal kayu yang masih mengandalkan layar, serangan bajak laut atau kapal-kapal negara saingan, cuaca yang tidak bersahabat, gizi yang buruk serta serangan penyakit misterius, semuanya bisa membuat seorang imam yang dikirim tak pernah mencapai Maluku.<span> </span>Jika seorang imam di Ternate mengirimkan surat ke Portugal untuk meminta tenaga penginjil, dia baru bisa berharap menerima jawabannya setelah tiga setengah tahun kemudian.<span> </span>Jangan heran kalau pangkalan misi di Ternate selalu kekurangan imam dan ladang-ladang garapan sering terlantar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tapi tantangan paling berat ternyata bukan itu.<span> </span>Pada tahun 1570, Sultan Hairun Ternate dibunuh oleh Portugis.<span> </span>Kebencian langsung menyala dan ini berujung pada jatuhnya benteng Portugis di Ternate.<span> </span>Kejatuhan ini membuat misi kehilangan tempat berpijak.<span> </span>Mereka harus meninggalkan Ternate dan berpindah-pindah.<span> </span>Mula-mula mereka ke Ambon, sesudah itu ke Tidore.<span> </span>Tapi belum lagi kedudukan mereka pulih, orang-orang Belanda sudah muncul (di Maluku tahun 1599).<span> </span>Ini yang paling berat.<span> </span>Pendatang baru yang satu ini tak cuma hendak berdagang, mereka ternyata membawa roh perseteruan yang hebat dari pihak Reformis Protestan.<span> </span>Di setiap tempat yang mereka kuasai, agama Katolik mereka larang dan ladang-ladang bekas misi mereka telantarkan.<span> </span>Akibatnya misi memasuki tahun-tahun terakhirnya.<span> </span>Sebagian jemaat Kristen kini beralih menjadi kafir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Minahasa masih beruntung karena ada Spanyol yang menggantikan.<span> </span>Mereka datang lewat Filipina.<span> </span>Terhadap sekitar 60 orang Kristen yang konon sudah ada di Manado Tua serta mungkin di beberapa tempat lain, mereka mencoba melanjutkan karya misi.<span> </span>Di antara imam yang mereka kirim terdapatlah Blas Palomino, anggota tarekat Fransiskan yang lahir di desa kecil Higuera de Arjona, Spanyol. <span> </span>Namanya patut dicatat karena dia adalah misionaris pertama yang berani masuk pedalaman Minahasa (April, 1619).<span> </span>Dia juga konon menulis sebuah karya tentang “bahasa Manado” yang mungkin menjadi catatan linguistik pertama untuk Minahasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sayangnya, bukan memberi tuaian, tanah Minahasa malah menuntut darahnya.<span> </span>Itu terjadi pada tanggal 30 Agustus 1622 dalam kunjungan kedua yang tidak dia rencanakan.<span> </span>Waktu itu, kapal yang dia tumpangi karam di suatu tempat, mungkin di dekat Kema sekarang.<span> </span>Palomino turun ke darat dan berusaha untuk menginjil lagi.<span> </span>Tapi penduduk tidak senang.<span> </span>Mereka menombaknya hingga tewas.<span> </span>Palomino menjadi martir pertama untuk Minahasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sesudah Palomino, tak banyak berita tentang misi yang kita ketahui kecuali bahwa di pedalaman ada aktifitas lagi.<span> </span>Tapi aktifitas kali ini rupanya ‘menumpang’ pada operasi-operasi militer.<span> </span>Dan ini berakibat buruk.<span> </span>Ketika seorang pemimpin Tomohon dilukai oleh seorang tentara, perang langsung meletus.<span> </span>Hampir seluruh pedalaman Minahasa dilaporkan bergolak.<span> </span>Puncaknya, pada tanggal 10 Agustus 1643 seorang bruder bernama Lorenzo Garralda terbunuh di desa Kali.<span> </span>Dengan segera, pos-pos misi yang baru dibentuk harus ditinggal.<span> </span>Misi kini menuju titik nadir.<span> </span>Kecuali beberapa kegiatan yang dikendalikan dari Kepulauan Sangihe, kita tak lagi mendengar ada usaha yang berarti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Apa yang menarik dari periode di atas yaitu bahwa Manado Tua tidak lagi disebut-sebut dalam laporan misi.<span> </span>Misi nampaknya lebih memberi perhatian pada daratan Minahasa.<span> </span>Kita tidak tahu persis apa sebabnya.<span> </span>Tapi mungkin, dari kacamata misi, daratan Minahasa lebih potensial dalam soal jumlah ‘jiwa yang perlu diselamatkan’, sementara Manado Tua, meskipun menjadi tempat pertemuan dari banyak suku, dia hanyalah sebuah pulau kecil yang penduduknya sudah disentuh Injil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kita tinggalkan misi, dan beralih ke VOC.<span> </span>Sebagai ganti imam Katolik, Belanda mendatangkan pendeta Protestan dan mengupayakan penerjemahan Alkitab.<span> </span>Tapi karena Belanda disini adalah sebuah perusahan dagang yang bernama VOC, upayanya berlumur cacat.<span> </span>Untuk mengatasi kesulitan dalam merekrut tenaga pendeta misalnya, Dewan Tertinggi VOC di Belanda memutuskan untuk “<em>menerima saja para tukang atau orang sejenis, asalkan mereka mengenal sedikit Alkitab, dapat memberikan kesaksian yang baik tentang hidupnya, dan tidak terlalu muda lagi untuk menjadi penghibur orang sakit</em>” (15 Juli 1614).<span> </span>Sementara itu, Klasis Middleburg yang terlibat dengan pengadaan pendeta, juga mengeluarkan ketentuan yang tak kalah konyolnya, “<em>dalam keadaan darurat, semua orang dibolehkan untuk melayani baptisan</em>” (2 November 1620).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tidak heran, tuduhan pun muncul; VOC menggunakan Injil untuk “menjinakkan” daerah-daerah yang akan dieksploitasi.<span> </span>Jika tuduhan ini benar, ini mungkin menjawab pertanyaan mengapa orang Minahasa harus menunggu sampai tahun 1663 sebelum bisa melihat pendeta pertama muncul.<span> </span>Nampaknya, VOC baru mengirim pendeta setelah sadar bahwa Minahasa adalah daerah penghasil beras yang potensil, dan bahwa beras dari Minahasa penting untuk mempertahankan kedudukan mereka di Maluku yang sedang terancam oleh sikap bermusuhan dari Kesultanan Makasar.<span> </span>Sebagaimana diketahui, hubungan VOC dan Makassar pada masa itu sedang memburuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Di antara pendeta pertama yang dikirim VOC ke Minahasa terdapatlah Burun (1663), Fransiscus Dionisius (1674), Isaacus Huisman dan Jacobus Montanus (1675).<span> </span>Tapi mereka rupanya tidak menetap, sementara wilayah kerjanya juga bukan di pedalaman.<span> </span>Mereka mungkin hanya melayani penduduk Manado yang terkait dengan VOC.<span> </span>Dua informasi berikut bisa menggambarkan kegiatan mereka.<span> </span>Pada tahun 1668, peneguhan perkawinan antara seorang tentara Belanda dan seorang gadis Manado dilakukan di depan seorang pendeta.<span> </span>Pada tahun 1674 di Manado sudah ada sebuah sekolah (yang juga berfungsi sebagai gereja) dengan 25 orang siswa dan 2 guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tapi sesudah Montanus aktifitas pelayanan menurun.<span> </span>Selama kira-kira dua dekade sesudah kunjungannya, total pelayanan di Manado konon hanya 25 kali.<span> </span>Malah sesudah tahun 1790 pelayanan menjadi terhenti karena tak ada pendeta yang datang.<span> </span>Lagi-lagi muncul kecurigaan terhadap VOC; jangan-jangan Injil tak diperlukan lagi karena fungsinya sudah digantikan oleh Kontrak 16 Januari 1679 (yang dibuat antara VOC dan 11 walak Minahasa).<span> </span>Bagaimana tidak, dengan pengecualian beberapa gangguan dari pihak Tondano, kontrak yang kontroversial ini kelihatannya cukup berhasil untuk mengalirkan beras dari pedalaman Minahasa ke benteng VOC di Manado.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">VOC ternyata tak abadi.<span> </span>Berbagai persoalan yang melilit – terutama korupsi – menuntun perusahan raksasa ini ke arah keruntuhan.<span> </span>Pada tanggal 31 Desember 1799 VOC resmi dibubarkan dengan meninggalkan hutang sebesar 134 juta gulden serta tanah jajahan yang terentang dari Tanjung Harapan hingga Jepang.<span> </span>Bagi penginjilan, pembubaran ini merupakan persoalan karena selama ini VOC yang membiayainya.<span> </span>Untung ada Nederlandsche Zendeling Genootschaap (NZG), sebuah lembaga penginjilan yang berdiri di Belanda dua tahun sebelum keruntuhan VOC.<span> </span>Lembaga inilah – yang merupakan perkumpulan penginjil Protestan pertama untuk daratan Eropa – yang mengambil alih sebagian besar peran VOC dalam soal penginjilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Di antara penginjil-penginjil yang dikirim NZG ke Minahasa, terdapatlah Johann F. Riedel dan Johann G. Schwarz yang tiba di Manado pada 12 Juni 1831.<span> </span>Mereka, seperti kebanyakan pendahulunya, mula-mula hanya melayani orang-orang Kristen di pesisir.<span> </span>Tapi entah mengapa, mereka kemudian memilih pedalaman; Riedel di Tondano, Schwarz di Langowan serta beberapa tempat lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Berbeda dari pendahulu-pendahulunya, kedua pendeta asal Jerman ini mendapat penghargaan lebih.<span> </span>Mereka disebut perintis kekristenan Minahasa; hari kedatangan mereka diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen Minahasa; kuburnya diziarahi oleh orang-orang dari denominasi Kristen tertentu di Minahasa.<span> </span>Sementara pada sisi yang lain, nama-nama seperti Magelhaéz, Palomino dan bahkan pendeta-pendeta asal NZG sendiri, seperti J.G. Hellendorn yang menyerahkan jemaat awal Tondano kepada Riedel, justru dilupakan.<span> </span>Kecenderungannya yaitu, bicara kekristenan Minahasa berarti bicara soal Riedel dan Schwarz.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tapi mau apa lagi.<span> </span>Sejarah penginjilan sebelum era Riedel dan Schwarz kenyataannya hampir tak punya bekas lagi.<span> </span>Malah ada yang ragu, metode apa yang dipakai Magelhães untuk membaptis ribuan orang sekaligus, dan apa pula motivasi orang-orang Manado Tua ketika menerima baptisan itu.<span> </span>Yang lain juga menertawakan latar belakang pendidikan para pendeta yang digaji oleh VOC.<span> </span>Tapi bahwa air permandian telah dipercikkan di Manado Tua pada bulan Juni 1563, dan bahwa di Manado sudah ada penduduk yang bisa membaca Alkitab sebelum Riedel dan Schwarz lahir, itu adalah fakta sejarah yang tak boleh dihapus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Kalau toh sekarang kita masih menemukan nama-nama Alkitab seperti Adam, Ewa dan Maria di dalam beberapa dongeng Minahasa (dan ini sudah dicatat oleh Pendeta Graafland pada tahun 1860-an), itu juga bukti bahwa karya para penginjil perintis itu masih berbekas dalam ingatan orang Minahasa.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=6&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2009/01/27/6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buaya di Sangihe dan Moral Koservasi Kita</title>
		<link>http://herteg.wordpress.com/2008/12/13/hi-folks/</link>
		<comments>http://herteg.wordpress.com/2008/12/13/hi-folks/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 17:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Herman Teguh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kita pe tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Buaya adalah binatang yang kontroversial.  Dia anggun dan kharismatik, tapi juga dibenci dan ditakuti.  Dalam banyak cerita rakyat, dia adalah tokoh eksekutor bagi yang berbuat salah.  Sementara di Papua dia justru korban dari pembantaian.  Banyak perusahan penangkaran buaya yang kerjanya hanya menangkapi buaya-buaya liar dari alam lalu menjual kulitnya yang mahal dengan menggunakan label “hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=1&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Buaya adalah binatang yang kontroversial.  Dia anggun dan kharismatik, tapi juga dibenci dan ditakuti.  Dalam banyak cerita rakyat, dia adalah tokoh eksekutor bagi yang berbuat salah.  Sementara di Papua dia justru korban dari pembantaian.  Banyak perusahan penangkaran buaya yang kerjanya hanya menangkapi buaya-buaya liar dari alam lalu menjual kulitnya yang mahal dengan menggunakan label “hasil penangkaran”.  Tidak cuma itu, dagingnya yang limbah juga diolah menjadi sate supaya bisa laku.  Dan karena ini adalah menu yang tidak lazim, mereka merasa perlu untuk melakukan sosialisasi.  Lewat berbagai pameran, sate ini dipromosikan ke masyarakat luas.  Sepertinya ada misi tersembunyi disini, mengajar rakyat makan daging satwa liar langka yang dilindungi, karena daging ternak di pasar tidak lagi mencukupi.<span id="more-1"></span></span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tingginya perburuan, rusaknya banyak habitat, serta sikap yang tidak bersahabat dari manusia, membuat nasib buaya terpuruk.  Dalam dua atau tiga dekade terakhir, populasi empat jenis buaya yang ada di Indonesia mengalami penurunan tajam.  Salah satunya adalah buaya muara atau <em><span style="font-family:Arial;">Crocodylus porosus</span> </em> .  Buaya ini sebenarnya memiliki daerah penyebaran yang paling luas, yaitu Asia Tenggara dan Papua, sebagian Asia Selatan, sebagian Australia dan juga sebagian pulau-pulau di Pasifik baratdaya.  Tapi kepunahan lokal yang terjadi dimana-mana membuat peta penyebarannya penuh lobang.  Salah satu lobang itu adalah Minahasa.  Sebuah laporan ilmiah yang ditulis awal abad 20 menyebut bahwa binatang ini terdapat di Manado, Kema, dan Danau Tondano.  Sekarang, kita tentu sulit percaya kalau di tempat-tempat itu buaya masih ada.  Populasi-populasi buaya kebanyakan tinggal bertahan di tempat-tempat yang jauh dari manusia.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Makanya, ketika pada awal November 2007 lalu kami menerima SMS dari seorang anggota pencinta alam di Sangihe, Denisius Piara, yang mengatakan bahwa di Kampung Laine, Manganitu Selatan, ada buaya, kami terkejut dan tidak begitu yakin.  Bagaimana mungkin reptil raksasa seperti itu bisa bertahan di pulau Sangihe yang mirip Minahasa, padat penduduknya dan hampir semua habitat alaminya sudah berubah menjadi kebun dan pemukiman.  Juga bagaimana mungkin binatang itu bisa ada di lingkungan seperti Laine, desa dengan penduduk hampir 2500 jiwa dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap – pasar, sekolah, serta pos kesehatan?</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tapi keraguan itu langsung sirna ketika pada akhir Maret 2008 lalu di Yayasan Lestari diputar sebuah film.  Film itu berisi rekaman tentang buaya itu.  Dalam film tersebut – yang dibuat oleh seorang pemuda Laine bernama Charles Rorong pada tanggal 25 November 2007 dan kopinya diperoleh dari WildLife Conservation Society (WCS) Sulawesi – buaya yang terlihat ada tiga ekor.  Orang-orang WCS mengidentifikasinya sebagai <em><span style="font-family:Arial;">Crocodylus porosus</span> </em> .   Maka sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 10 dan 11 April 2008 lalu, suatu tim kecil dari Yayasan Lestari dan WCS pun mengunjungi lokasi dimana Charles membuat filmnya – sepetak hutan bakau dan rawa pantai di pinggir Kampung Laine.  Hasilnya tak sia-sia.  Dua ekor buaya yang masing-masing berukuran 4 dan 2.5 meter menampakkan diri dan kamera video milik Yayasan Lestari berhasil merekamnya.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Pulau Sangihe sedang membuat kejutan.  Sebelumnya, kira-kira sepuluh tahun lalu, pulau ini mengejutkan ahli-ahli konservasi ketika sejenis burung sikatan berwarna biru cerah yang sudah dianggap punah, yaitu Burung Niu (<em><span style="font-family:Arial;">Eutrichmyias rowleyi</span> </em> ), ditemukan lagi di Pegunungan Sahendarumang.  Sekarang kejutan itu datang dari jenis reptil raksasa yang secara teoritis agak meragukan kalau masih bisa ada.  Lokasi penemuannya juga nyaris bersebelahan dengan pemukiman penduduk.  Memang, buaya pernah terdapat disini.  Bahkan menurut Kapitalaung Laine, Nobertus Lahengko, pada tahun-tahun 1960-an s/d 1980-an jumlahnya masih “lumayan banyak”.  Tapi setelah adanya perburuan oleh para pendatang asal Sulawesi Tengah dan Selatan, binatang ini menghilang.  Buaya terakhir katanya terlihat sekitar tahun 1987.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Kita boleh heran, tapi ada ironi disini.  Jika penemuan Burung Niu membuat Sangihe menjadi perhatian dunia, kemunculan ulang buaya justru tidak.  Jangankan dunia, pada tingkat Sulawesi Utara saja perhatian itu tidak ada.  Buaya sebenarnya bukan tak unik.  Anggota ekosistem pesisir dan rawa yang menduduki puncak rantai makanan itu konon suka melindungi bayinya di dalam mulutnya.  Jenis kelamin bayi-bayinya juga ditentukan oleh suhu dimana telur-telurnya dierami sehingga ada kemungkinan menghadapi ancaman karena perubahan suhu global.  Buaya muara memang bukan jenis endemik Sangihe, tapi kemungkinan itu belum tertutup.  Populasi-populasinya yang tersebar luas telah menimbulkan dugaan bahwa dia terdiri dari jenis-jenis yang berbeda.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tapi takdir buaya memang tak sebagus Burung Niu.  Keberadaannya yang berkesan “ada dimana-mana” serta rasa takut akan sifatnya yang bisa ganas, membuat reptil yang memiliki jantung berbilik empat mirip mamalia ini tidak populer.  Upaya-upaya konservasi terhadapnya sering harus mengalah jika yang dipersoalkan adalah cap pembunuhnya.  IUCN Red Data Book sendiri juga – herannya – hanya menggolongkan dia sebagai jenis yang beresiko rendah.  Ini menjadi semacam vonis yang pada akhirnya menyudutkan dia sebagai satwa liar yang “minim donor”.  Jika burung Niu serta lima jenis burung endemik Sangihe-Talaud lain pernah menerima <em><span style="font-family:Arial;">medium-sized grant</span> </em> dari Global Environmental Facilities (GEF), buaya Laine pasti tak akan.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Makanya, di tengah-tengah memudarnya era konservasi jenis serta sedang naik daunnya model konservasi berbasis masyarakat, masa depan buaya tak begitu menjanjikan.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tapi apakah ini kemudian menjadi alasan untuk menelantarkan mereka?  Tidak.  Kita telah menjual begitu banyak keanekaragaman hayati dari bumi kita, termasuk diantaranya lembar-lembar kulit buaya yang tak terhitung jumlahnya.  Seharusnya kita punya dana untuk menyelamatkan beberapa ekor buaya di Laine ini.  Buaya adalah satwa liar yang dilindungi hukum.  Mereka tidak boleh diapa-apakan tanpa ijin tertulis dari Pemerintah, dalam hal ini Balai KSDA Sulawesi Utara.  Hanya saja, menyelamatkan buaya secara <em><span style="font-family:Arial;">in situ</span> </em> jelas bukan sesuatu yang mudah.  Apalagi, jika lokasi <em><span style="font-family:Arial;">in situ</span> </em> itu terkepung oleh pemukiman penduduk.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Buaya adalah satwa liar yang dapat membahayakan penduduk.  Konservasinya memerlukan perencanaan yang matang.  Pada sisi yang lain, waktu juga amat menentukan.  Konflik dengan manusia bisa muncul setiap saat dan kita tidak tahu itu kapan.  Saat ini penduduk Laine memang tidak bereaksi.  Tapi seandainya konflik itu terjadi dan ada korban di pihak manusia, maka bisa dipastikan semua upaya konservasi akan gagal.  Penduduk akan memusuhinya dan undang-undang manapun tak akan mampu melindunginya.</span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Makanya yang tersisa sekarang tinggal pilihan-pilihan yang melibatkan moral konservasi.  Apakah kita akan membiarkan buaya-buaya itu sampai waktu yang akan menentukan takdirnya?  Apakah kita akan mengamankan mereka ke sebuah kebun binatang?  Apakah kita akan membunuh mereka untuk dijadikan koleksi museum?  Atau apakah kita mau membiarkan mereka tetap di Laine dengan konsekuensi kita harus rela berbagi lahan dan menyiapkan suatu rencana pengelolaan yang adil.  Semua ini sekali lagi tergantung pada moral konservasi kita.  Buaya memang binatang yang jahat.  Tapi jika dikelola dengan baik dan terencana, bukan tidak mungkin dia juga bisa menjadi daya tarik pariwisata dan mendatangkan keuntungan.  Sekarang keputusannya ada pada kita, dan itu harus diambil segera.</span> </span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herteg.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herteg.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herteg.wordpress.com&amp;blog=5839574&amp;post=1&amp;subd=herteg&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herteg.wordpress.com/2008/12/13/hi-folks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96ee1c42f4b18fac9de89109f9a7ad38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Herteg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
